oleh

Warkop Pitulikur Bantu Siswa Belajar dengan Wifi dan Teh Hangat Gratis

citizen.co.id Surabaya – Warkop Pitulikur ”melayani” pelajar. Terutama mereka yang tidak punya uang untuk akses internet selama pembelajaran jarak jauh (PJJ) berlangsung. Bisa akses internet sepuasnya asalkan terkait tugas sekolah.

Mengenakan sandal jepit, berseragam lengkap, empat bocah itu duduk di pojokan Warkop Pitulikur di Jalan Bagong Tambahan Nomor 32. Masing-masing bocah menghadap layar smartphone yang mereka genggam.

”Saya hadir, Bu,” ucap M. Dovan Alvaro, salah seorang bocah. Dia sedang ngobrol dengan guru bahasa Inggrisnya lewat video meeting di layar ponsel. Ya, pagi itu Dovan bersama tiga kawannya, Yohanes, Ifan, dan Adi, memang tidak sedang asyik bermain Mobile Legend, PUBG Mobile, atau joget-joget lewat aplikasi Tiktok.

Baca juga :

Bagian Atas Alun-Alun Surabaya Ditargetkan Selesai Pertengahan Agustus

Fatah Jasin – KH. Ali Fikri Warist Dengan Tongkat, Harapan Besar Menang di Pilkada 2020

Kasatlantas Polres Sumenep menggelar Operasi Patuh Semeru (OPS)

Mereka datang ke warkop karena mengikuti kelas online yang diadakan sekolah. Kemarin merupakan hari pertama PJJ. Dovan pelajar di SMPN 10 Surabaya. Dia baru diterima sebagai siswa di sekolah tersebut tahun ini. Pada hari pertama PJJ, Dovan masih mengenakan seragam SD. Seragamnya belum jadi.

”Saya ke sini diajak itu,” sambil menujuk Yohanes yang berada tepat di depannya. ”Pas kuota internet juga habis, ya aku ikut,” ucap bocah 13 tahun itu. Yang ditunjuk menjawab singkat. ”Daripada aku gak onok koncone,” ucap Yohanes Bintang Siahaan, lantas tertawa.

Yohanes baru diterima di SMK Negeri 12 tahun ini. Dia mengenakan seragam putih abu-abu bersih tanpa bed dan nama. Dia kemarin mengajak tiga temannya ke Warkop Pitulikur karena tertarik dengan fasilitas yang disampaikan lewat media sosial. Pelajar yang kesulitan data untuk pembelajaran visual bisa datang ke warkop. Gratis kuota internet dan teh hangat.

Empat bocah itu datang ke warkop sejak pukul 7 pagi. Mereka datang ke warkop dengan mengayuh sepeda dari Kampung Grudo, Kelurahan dr Soetomo, Kecamatan Tegalsari. Datang ke warkop, keempatnya langsung disambut Nur Aminah, penjaga warkop, seraya menyodorkan empat gelas teh hangat kepada mereka. ”Gawe sekolah lho yo, ojok gawe ngegame,” ucap Nur.

Diberi izin pengelola warung, keempatnya langsung duduk di satu meja. Semua buka handphone dan mengikuti pelajaran di kelas masing-masing. Dovan dan Ifan belajar bahasa Inggris. Yohanes mengerjakan tugas PKn. Adi mendapat tugas membaca materi olahraga. Semuanya menyimak serius. Di sela-selanya, mereka menyeruput teh hangat. ”Saya memang punya handphone, tapi jarang punya paketan,” ucap Yohanes.

Selama pandemi, Yohanes sering datang ke warung atau rumah teman untuk mencari wifi. Yang bisa mengoneksikan handphone miliknya dengan internet.

Dia tidak tega terus-menerus meminta orang tua untuk membeli paketan. Ayahnya tidak bekerja. Sementara itu, sang ibu merupakan pekerja sosial. Kalau diberi uang, Yohanes baru membeli paketan. Tak ada uang, numpang wifi yang harus dilakukan.

Bocah yang tinggal di Flat Grudo itu mengatakan bahwa dirinya ingin sekali segera bisa kembali bersekolah dan belajar di dalam kelas. Dia ingin mengenal teman-teman barunya di SMKN 12. ”Biar juga enggak repot belajar terus. Kalau belajar, harus pakai internet,” ujar siswa yang mengambil jurusan pedalangan itu.

Pemilik Warkop Pitulikur Husin Ghozali mengungkapkan bahwa ide free wifi dan teh hangat itu berawal dari keprihatinannya sebagai orang tua. Dia punya lima anak dan semuanya masih sekolah.

Sejak pandemi, sekolah diliburkan. Pembelajaran diganti jarak jauh dengan menggunakan sambungan internet. Setiap hari ada layanan meeting. Yang menyedot banyak kuota internet. ”Saya lihat anak sendiri. Satu anak, sehari sekitar 2 giga,” ucapnya saat ditemui di Warkop Pitulikur.

Cong, sapaan akrab Husin Ghozali, lantas membayangkan nasib orang tua yang tidak punya cukup uang untuk pasang wifi di rumah atau membelikan anaknya paket internet. Yang saat ini sangat dibutuhkan untuk belajar.

Saat ini kondisi ekonomi sedang sulit-sulitnya. Banyak orang di-PHK dari tempatnya bekerja. Mungkin juga termasuk para orang tua siswa. Beban makin berat jika pengeluaran ditambah dengan biaya internet.

Berangkat dari situ, dia membuka layanan gratis internet dan teh hangat di warkopnya. Siswa yang belajar pun tidak dibatasi waktu. Cong hanya mematok satu syarat. Semua akses internet hanya boleh untuk belajar, tidak boleh buat main game.

Cong sengaja memberikan teh hangat gratis kepada pelajar yang datang agar mereka tidak perlu mengeluarkan banyak uang saat di warung. Bahkan, datang saja tanpa membeli makanan dan minuman di warkop juga boleh. ”Saya sarankan anak-anak sebelum ke warkop sarapan dulu biar ndak banyak jajan di sini,” jelasnya.

Bahkan, ke depan dia sudah punya rencana memisahkan kursi khusus pelajar dengan pengunjung warkop lain jika jumlahnya membeludak. Pelajar dibuat barisan sendiri agar mereka lebih mudah konsentrasi selama belajar.

Duduk bersama beberapa pelajar yang datang ke warkopnya, Cong terlihat akrab. Dia bertanya banyak hal kepada mereka. Mulai aplikasi apa yang dipakai untuk video hingga rumah tinggal keempatnya.

Sambil bercanda, lelaki dengan kupluk hitam itu menggoda para siswa. ”Lak biyen onok arek sekolah seragaman mlebu warung isuk tak usir. Saiki malah tak kon sinau ndek kene,” ucapnya, lantas tertawa.(cz/bel)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed