Utang Pinjol Tembus Rp 90,99 Triliun, Ekonom: Tanda Daya Beli Masyarakat Makin Tertekan

Nov 11, 2025 - 21:15
Utang Pinjol Tembus Rp 90,99 Triliun, Ekonom: Tanda Daya Beli Masyarakat Makin Tertekan
Ilustrasi pinjaman online (ist)

Jakarta - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat total utang masyarakat Indonesia di sektor Peer to Peer (P2P) Lending atau pinjaman online (pinjol) terus menanjak. Per September 2025, nilai outstanding pinjol tembus Rp 90,99 triliun, naik 22,16% secara tahunan (year-on-year/YoY).

Secara bulanan, angkanya juga meningkat 3,86% dibanding Agustus 2025 yang sebesar Rp 87,61 triliun. Namun, pertumbuhan ini dibayangi lonjakan tingkat wanprestasi di atas 90 hari (TWP90) atau kredit macet yang kini mencapai 2,82%, naik dari 2,60% pada bulan sebelumnya.

Kenaikan tersebut menandakan semakin banyak masyarakat yang kesulitan membayar kembali utang pinjolnya.

Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira, menilai lonjakan utang pinjol ini bukan pertanda baik bagi perekonomian nasional. Menurutnya, fenomena ini menunjukkan bahwa pendapatan masyarakat sudah tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Kenaikan utang pinjol bukan indikator ekonomi positif. Masyarakat makin butuh dana cepat, dan pinjol jadi jawabannya,” ujar Bhima kepada detikcom, Selasa (11/11/2025).

Bhima menegaskan, sebagian besar dana pinjol digunakan untuk kebutuhan konsumtif, bukan produktif. Akibatnya, uang pinjaman cepat habis tanpa menghasilkan nilai ekonomi baru, sementara bunga dan denda administratif terus menumpuk.

“Masyarakat tahunya cuma akses cepat, tinggal klik dan selfie dengan KTP. Tapi konsekuensi besarnya—beban bunga, denda—sering diabaikan. Akhirnya mereka terjebak dalam siklus utang, pinjam pinjol lain untuk menutup pinjol lama,” jelasnya.

Bhima memperingatkan, jika tren ini terus berlanjut, masyarakat akan semakin terjebak dalam beban cicilan dan bunga tinggi. Akibatnya, daya beli turun dan pertumbuhan ekonomi nasional sulit menembus 5,5% tahun ini.

Pandangan serupa disampaikan Ekonom Senior INDEF, Tauhid Ahmad, yang menilai lonjakan utang pinjol merupakan sinyal melemahnya daya beli masyarakat.

“Semakin tinggi utang pinjol, semakin rendah konsumsi masyarakat. Grafiknya berkebalikan,” ungkap Tauhid.

Ia menjelaskan, masyarakat kelas menengah bawah banyak menggunakan pinjol untuk memenuhi kebutuhan pokok, sementara kalangan menengah ke atas lebih banyak memanfaatkannya untuk gaya hidup.

“Kalau produktif, mereka tidak berani. Karena bunga pinjol bisa di atas 100% per tahun. Mana ada bisnis yang bisa kasih imbal hasil sebesar itu. Jadi, mau tidak mau jatuhnya konsumtif terus,” tambahnya.

 

Top of Form

 

Bottom of Form