oleh

Tuduhan Di’corona’kan, Ustadz Ma’ruf Khozin: Jangan Goblok Berlebihan

Citizen.co.id Surabaya – Hingga kini masyarakat masih memiliki persepsi bahwa saat ada keluhan sakit hendaknya menghindari untuk datang ke rumah sakit. Ada ‘konspirasi’ besar bahwa saat sudah berada di bangunan serba putih tersebut akan divonis sebagai pasien pengidap Covid-19.

Karena santer beredar kabar bahwa pihak rumah sakit akan mendapatkan bonus saat menangani pasien pengidap virus Corona. Nominalnya lumayan, karena itu sejumlah orang sakit akan di’Corona’kan.


Tuduhan tersebut dibantah keras oleh Ustadz Ma’ruf Khozin, Senin (28/06/2021). Di akun Facebooknya, Ketua Pengurus Wilayah (PW) Aswaja NU Center Jatim tersebut memberikan penjelasan saat ditangani Rumah Sakit Islam (RSI) Jemursari Surabaya.

HUT Bhayangkara ke-75, Satpas Polres Gresik Gratiskan Vaksin untuk Pemohon SIM

Utang Indonesia Tembus Rp.8.670,66 Triliun, Ketua DPD RI Berharap Masyrakat Tetap Optimistis

“Sabtu, 12 Juni, saya pertama kali ke RSI Jemursari Surabaya. Swab antigen positif. Saya diminta isolasi di RSI tapi saya minta isolasi mandiri. Dokter pun mengizinkan. Sebelum pulang saya difoto rontgen. Saat itu saya belum tahu hasilnya,” katanya.


Selanjutnya, alumnus Pesantren Ploso, Kediri tersebut menyampaikan bahwa Senin, 2 hari berikutnya, dirinya balik ke RSI Jemursari karena tidak mampu dengan nyeri di kepala.

“Swab PCR ternyata positif. Saya difoto rontgen kedua kalinya,” kenangnya.

Setelah sepekan, ada perawat menemui dan bertanya kepadanya.


“Bapak selama dua hari kemana saja dari Sabtu ke Senin?” tanya perawat. Ustadz Ma’ruf Khozin menjawab kalau sedang melakukan isolasi mandiri atau isoman di rumahnya.

Dengan rinci, perawat memberi tahu hasil rontgen dua kali selama dua hari, ternyata penuh bintik hitam. Dan pada saat yang bersamaan, Ketua Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) jawa Timur ini merasa bahwa nafasnya berat sehingga memerlukan ventilator.


Dijelaskan kemudian bahwa perubahannya sangat cepat dan drastis. Fungsi paru menurun dan mengarah pada gagal nafas.

“Nafas saya putus-putus dan tidak mampu membaca satu ayat pendek di Juz Amma kecuali dengan dua kali ambil nafas,” akunya.

Dalam pandangannya, virus Corona sangat mengganggu di paru. Karena itu dirinya menyatakan beruntung dokter dan perawat selalu memantau saturasi oksigen.


“Alhamdulillah selalu stabil di antara 96-98 baik dengan tingkat terendah dari ventilator hingga ke tingkat paling atas. Lagi-lagi saya tidak putus mengucapkan alhamdulillah, Allah telah memberi keselamatan untuk melewati proses berat itu,” jelasnya.

Dari keterangan tim medis, Ustadz Ma’ruf akhirnya mengerti bahwa inilah yang disebut indikasi badai sitokin. Dan celakanya, bagi orang yang tidak tahu akan dianggap bahwa ini dicoronakan.


“Sebab masuk rumah sakit cuma karena penyakit bawaan, tiba-tiba jadi Corona. Padahal hanya dalam hitungan jam, virus sudah menyebar,” tegasnya.

Di ujung keterangan tersebut, Ustadz Ma’ruf Khozin mengemukakan bahwa para dokter menentukan penyakit berdasarkan bukti medis. Karena itu hampir setiap hari diambil darah untuk laboratorium, tensi darah dipantau tiga kali sehari dan tiga kali foto rontgen.


“Sementara kita yang awam menuduh macam-macam tanpa bukti dan hanya dugaan saja,” keluhnya.

Dirinya kemudian menyitir dua ayat di surat Yunus dan Isra’ ayat yang sama yakni 36. Yakni yang berkaitan dengan anjuran tidak berprasangka buruk kepada siapapun, termasuk tentu saja kepada tim kesehatan.

“Saya tidak sedang membela para dokter dan tenaga kesehatan, sebab mereka sudah berada di posisi yang benar. Saya sedang mengajak kita semua agar tidak ‘goblok’ berlebihan,” pungkasnya.(cz/bel)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed