Tradisi Jamu Laut: Harmoni Nelayan dan Alam, Simbol Budaya Melayu dari Serdang Bedagai

Jul 23, 2025 - 21:34
Tradisi Jamu Laut: Harmoni Nelayan dan Alam, Simbol Budaya Melayu dari Serdang Bedagai
Menteri Kebudayaan Fadli Zon menghadiri acara puncak jamu laut di Pantai Indah Seafood, Serdang Bedagai, Sumatera Utara, Rabu (23/7/2025)

Serdang Bedagai - Tradisi Jamu Laut kembali menggema di pesisir Pantai Cermin, Serdang Bedagai, Sumatera Utara, Rabu (23/7/2025), dalam perayaan puncak yang dihadiri langsung oleh Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon. 

Tradisi warisan leluhur ini tak hanya menjadi simbol rasa syukur masyarakat pesisir atas berkah laut, tetapi juga menjadi momentum penting dalam pelestarian budaya Melayu Nusantara.

Dalam sambutannya, Menteri Fadli Zon menyebut Jamu Laut sebagai manifestasi nyata komitmen kuat bangsa dalam menjaga adat dan budaya lokal.

"Kegiatan ini merupakan bentuk kearifan lokal yang luar biasa, cara kita menghargai alam dan menunjukkan harmoni antara manusia terutama nelayan dengan lingkungan," ujar Fadli.

Ia juga berharap tradisi ini tidak hanya lestari secara budaya, tapi turut berdampak secara ekonomi bagi masyarakat pesisir.

“Mudah-mudahan ini menjadi sarana meningkatkan hasil tangkapan nelayan, dan menjadi sumber protein penting bagi masyarakat. Saya berharap tahun ini tradisi Jamu Laut dapat dicatatkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia,” tambahnya.

Puncak acara ini ditandai dengan penandatanganan prasasti peresmian pelestarian adat Budaya Melayu tradisi Jamu Laut oleh sejumlah tokoh penting. Selain Menteri Fadli Zon, penandatanganan juga dilakukan oleh Sultan Serdang IX Tuanku H. Akhmad Tala’a Syariful Alamsyah, Bupati Serdang Bedagai Darma Wijaya, Wakil Bupati Adlin Tambunan, Ketua Dewan Pakar PB GAMI Indonesia Dr. H. Dahnil Anzar Simanjuntak, dan Ketua Umum PB GAMI Indonesia Dato’ H. M. Sumandi.

Bupati Serdang Bedagai, Darma Wijaya, menyambut hangat kehadiran Menteri Kebudayaan dan mengungkapkan rasa bangganya atas perhatian pemerintah pusat terhadap kekayaan budaya lokal.

“Tradisi ini melambangkan harmoni manusia, alam, dan pencipta. Ia memuat nilai spiritual, sosial, dan ekologis yang sangat mendalam,” ujarnya.

Ia juga menambahkan bahwa tradisi Jamu Laut bukan satu-satunya ritual adat yang dimiliki daerahnya.

“Kami juga punya Jamu Ladang yang digelar sebagai bentuk syukur atas hasil panen dan menyambut musim tanam,” jelas Darma.

Pemerintah Kabupaten Serdang Bedagai menyatakan komitmennya untuk terus memperkuat pelestarian budaya lokal melalui pendidikan, pengarsipan, hingga promosi di tingkat nasional dan internasional. Salah satu langkah nyatanya adalah dengan mengusulkan tradisi Jamu Laut ke Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah II Sumatera Utara sebagai Warisan Budaya Tak Benda.

Rangkaian Jamu Laut yang berlangsung sejak Minggu (20/7/2025) hingga puncaknya pada Rabu (23/7/2025) ini, bukan sekadar ritual, tetapi juga perayaan identitas dan jati diri bangsa. Melalui tradisi ini, masyarakat diajak untuk kembali menengok akar budaya, menjaga keseimbangan dengan alam, serta menanamkan rasa bangga terhadap warisan nenek moyang.

Jamu Laut, lebih dari sekadar syukuran nelayan, namun adalah jiwa dari budaya Melayu Serdang Bedagai yang terus hidup dan berkembang di tengah modernitas. Sebuah warisan budaya yang kini menanti pengakuan nasional, dan layak menjadi inspirasi pelestarian tradisi-tradisi Nusantara lainnya.