oleh

Sukseskan ROOTS, Plato Bersama Unicef Tuntaskan Tiga Dosa Besar Dunia Pendidikan

Citizen.co.id Surabaya – Perundungan atau dikenal dengan bullying seperti sudah umum di lingkungan masyarakat kita. Bahkan ini sudah dimulai dari anak-anak, baik dilingkungan sekolah, tempat bermain atau di lingkungan keluarga.

Apapun bisa menjadi bahan bullyian, terlebih yang menyangkut ukuran tubuh. Padahal ada banyak hal-hal berbahaya yang dapat berpengaruh pada perkembangan dan kesehatan mental anak-anak ketika mendapat perundungan atau bullying.


Untuk memutusnya dan menuntaskan “budaya” perundungan ini, Plato mendukung sepenuhnya program Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Riset dan Teknologi menggelar serangkaian Program Roots untuk mencegah bullying dengan mengedepankan perubahan perilaku ke arah yang lebih positif, Rabu, 14/7/21.

Program berbasis sekolah ini diharapkan mampu mencetak agen-agen perubahan yang nantinya bisa menjalankan program dan kampanye anti bullying di lingkungan sekolah. Di Pulau Jawa, Roots dilakukan di 6 provinsi, yaitu Jawa Timur, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Barat, DKI Jakarta dan Banten.

Menjaga Hari Raya Kurban tetap Aman di Saat Pandemi

Ketua DPRD Jatim Minta Pembenahan Sistem Pendataan Kasus Covid-19 Nasional Secara Berkeadilan

Pelaksanaan Roots di Jawa ini didukung oleh UNICEF dan Yayasan PLATO dengan melibatkan mitra Yayasan Setara dan LPA Klaten. Setiap provinsi akan mengirimkan perwakilannya melalui Dinas Pendidikan terkait sebagai fasilitator Roots.


Fasilitator Roots akan menjalani serangkaian pelatihan yang diselenggarakan pada tanggal 14-19 Juli 2021.

Sebanyak 200 orang berpartisipasi untuk bisa nantinya terpilih sebagai fasilitator nasional. Pada pembukaan pelatihan ini, tidak kurang dari 233 peserta tergabung di dalamnya.

Pembukaan ini pun dihadiri Staf Khusus Bidang Kompetensi dan Manajemen Kemdikbudristek Republik Indonesia yaitu Bapak Pramoda Dei Sudarmo, M.BA, M.PA, Direktorat SMP Kemdikbudristek Kepala Pusat Penguatan Karakter Kemdikbudristek Republik Indonesia, Drs. Mulyatsyah, MM dan juga UNICEF oleh Ali Aulia Ramly.


Dalam pembukaan virtual yang diselenggarakan oleh UNICEF ini, Bapak Ali dari UNICEF menyampaikan bahwa hasil Global School Health Survey Tahun 2015 menyebutkan bahwa sekitar 21% anak usia 13-15 atau setara dengan 18 juta anak di Indonesia pernah mengalami perundungan dalam 1 bulan terakhir.

Oleh karena itu isu perundungan ini perlu menjadi prioritas dan melibatkan berbagai pihak untuk bersama-sama mencegah dan menanggulanginya.

Staf Khusus Bidang Kompetensi dan Manajemen Kemdikbudristek Republik Indonesia, Pramoda Dei Sudarmo, M.BA, M.PA memaparkan dalam video singkatnya bahwa Program Roots hadir sebagai terobosan baru bagi pencegahan perundungan. UNICEF telah mendukung program ini sejak beberapa tahun dan terbukti efektif dalam mengurangi perundungan yang terjadi pada remaja.


Perundungan melibatkan mindset dan aspek budaya sehingga perlu adanya penguatan karakter untuk mencegahnya. Program roots ini diharapkan mampu secara sistemik mencegah secara dini perundungan dengan melibatkan agen sebaya atau peers di sekolah.

Bapak Drs. Mulyatsyah, MM selaku Direktur SMP Kemdikbudristek Kepala Pusat Penguatan Karakter Kemdikbudristek Republik Indonesia menitipkan harapan kepada fasilitator untuk mewujudkan sekolah yang bebas perundungan.

Beliau juga menyambut baik pelatihan fasilotator skala nasional ini, khususnya di Sulawesi dan Jawa yang saat ini sedang menyelenggarakan pelatihan nasional. Pendidikan ini adalah peran dan tanggung jawab seluruh masyarakat, termasuk mencegah perundungan sehingga Profil Pelajar Pancasila bisa terwujud.


Staf Khusus Kemendikbudristek, Chika Natasha menyampaikan bahwa Roots Indonesia merupakan program prioritas dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Riset dan Teknologi dalam menuntaskan tiga dosa besar Pendidikan, yaitu Kekerasan seksual, Perundungan dan Intoleransi.

Roots bekerja dengan membentuk fasilitator nasional yang akan menjadi master trainer untuk melatih dan mendampingi guru di sekolah masing-masing. Fasilitator sekolah ini akan mengedukasi siswa-siswanya untuk bisa mencegah perundungan di tingkat sekolah.


Siswa-siswi inilah yang nanti akan menjadi agen perubahan program Roots. Bapak Ian Iapoh dari Pusat Pendidikan Karakter juga menyampaikan bahwa program ini juga mendukung pembentukan SDM unggul.

PUSPEKA juga menyampaikan bahwa akan tetap selalu mendukung melalui berbagai media untuk mencegah program perundungan ini. Acara pembukaan ini diakhiri dengan pengarahan singkat dari UNICEF dan pembagian peserta ke link virtual meeting untuk pelatihan fasilitator nasional.(cz/bel)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed