citizen.co.id

Selamat Hari Pers Nasional: Kooptasi vs. Kreativitas

Selamat Hari Pers Nasional: Kooptasi vs. Kreativitas

Oleh: Andre Vincent Wenas




citizen.co.id Opini – Pers dari kata Press, yang artinya cetak. Karena memang awalnya dari media cetak. Lalu berkembang ke media elektronik, radio dan televisi. Sekarang on-line.

Mulanya adalah idealisme sebagai pewarta kebenaran. Karena dipercaya bahwa kebenaran itu mencerahkan budi. Dan itu baik.

Jadi rusak kalau insan pers telah terkooptasi atau dikooptasi oleh penguasa. Entah itu penguasa politik atau penguasa bisnis. Yang dimaksud dengan terkooptasi disini adalah saat pers cuma jadi corong humas penguasa. Tanpa daya kritis.

Kita tahu bahwa biar bagaimana pun semua orang tetap perlu makan. Mencari makan dari siapa saja yang bersedia memberi makan. Termasuk pers. Dan itu biasa.


Tapi ingat, bagi insan pers yang diundang makan siang penguasa, ada caveat yang bilang, ‘there is no such thing as free lunch!’

Tidak ada makan siang yang gratis. Yang ada cuma kesempatan untuk pakai PSK gratis ala Rosiade-Gerindra. Itu pun akhirnya kena bully oleh citizen journalism dan naik ke main-stream media.

Sekarang era media online, juga bisa via medsos, sehingga potensial semua orang bisa jadi wartawan/wati. Namanya citizen journalism, jurnalisme rakyat.

Media telah terfaksionalisasi secara luar biasa. Banyak koran gulung tikar, atau paling tidak turun oplah. Awak redaksi pensiun dini. Sebagian beralih ke media online, atau jadi Youtuber.


Semua orang saat ini melaporkan kejadian disekitarnya lewat medsosnya. Bukan cuma peristiwa lua, bahkan sampai rahasia hati pun dilaporkan dalam update statusnya. Rahasia umum jadinya.

Kalau jaman dulu orang menulis diary pribadi dan disimpan rapat-rapat. Sekarang orang meng-upload curhatnya untuk setiap kali dicheck dan recheck apakah sudah di-like dan dikomentari oleh berapa banyak orang ya?

Intinya semua bebas melaju di atas platform internet ini. Media sosial memfasilitasi citizen journalism. Kalangan pers mendapat mitra sekaligus penyeimbang kalau bukan disebut pesaing.

Media main-stream maupun yang masih side-stream mesti terus menggali kreativitasnya untuk merebut atensi audience, setiap saat. Loyalitas ke media tertentu sudah menipis, mungkin juga pudar.

Audience, yaitu para pemirsa, pendengar dan pembaca punya minatnya masing-masing. Ada yang cari kebenaran, dan ada yang cari hiburan. Paduan keduanyalah yang disajikan pers.

Segi etika dan estetika ada di dalam kerja jurnalistik. Karena itu di sini kita hanya ingin mengingatkan kembali. Terus gali kreativitas untuk memenuhi kebutuhan audience tadi: kebenaran yang mencerahkan dan hiburan yang sehat dan baik.


Kerjasama dengan semua pihak dalam rangka cari makan bagi pers itu sah-sah saja. Berita selalu multi dimensi, setidaknya liput kedua sisi (cover both sides) jangan dilupakan.

Di peringatan hari pers nasional ini kita berharap, jangan sampai pers terkooptasi dan melacurkan diri pada kekuasan. Akhirnya cuma jadi toa pemda, cuma berteriak soal gunting pita disini dan pukul gong disana.

Jangan jual diri untuk jadi pelacur intelektual. Maaf agak keras penutup tulisan ini.

Selamat Hari Pers Nasional! Antara terkooptasi versus kerja keras dan kreatif, pilihlah kerja keras dan kreatif.(cz/en/avw)

“Veritas vos liberabit”, the truth shall set you free.

Andre Vincent Wenas, Sekjen Kawal Indonesia – Komunitas Anak Bangsa

 2,577 total views,  2 views today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *