citizen.co.id

Renungan Diri Konsep Alam Bahwa Sadar Manusia “Neng Ning Nung Nang”

citizen.co.id Khazanah Pernahkah-  Anda mendengar istilah “Neng Ning Nung Nang?” Mungkin sebagian orang masih asing dengan istilah tersebut. Namun, bagi masyarakat jawa mungkin sering mendengar kata tersebut, karena sebenarnya “Neng Ning Nung Nang” merupakan nada yang dihasilkan oleh alat musik tradisional Jawa yaitu Gamelan.
Jika Anda sering bermain gamelan atau pernah mendengarkan bunyi gamelan, Anda akan mendengar bunyi-bunyi yang dihasilkan Kenong dan Bonang  “Neng, Ning, Nung, Nang”. Bukan hanya sekedar bunyi alat musik saja, namun empat kata tersebut dijadikan sebagai kiasan yang menggambarkan tahapan mencapai pribadi yang menang mulai dari alam bawah sadar manusia. Seperti apakah konsep alam bawah sadar “Neng Ning Nung Nang”? Berikut penjelasannya.

loading...


Pengertian Alam Bawah Sadar
Alam bawah sadar (The Subconscious) merupakan istilah yang merujuk pada tahapan atau lapisan dari sebuah proses pemikiran. Artinya, pemikiran atau persepsi dari alam bawah sadar terletak “di bawah” kesadaran manusia. Karena terletak di bawah kesadaran sesungguhnya, maka seringkali hal tersebut tidak disadari oleh manusia.
Dalam istilah Psikologi, alam bawah sadar didefinisikan sebagai bagian dari pikiran yang tidak berada dalam kesadaran. Seorang Psikolog Pierre Janet mengungkapkan bahwa di balik lapisan pemikiran sadar manusia terletak sebuah kesadaran yang sangat kuat, itulah yang disebut sebagai alam bawah sadar.

Konsep “Neng Ning Nung Nang”
Dalam filosofi jawa “Neng, Ning, Nung, Nang” memiliki makna mendalam terkait fenomena alam bawah sadar dalam diri manusia. Ke empat istilah tersebut merupakan tingkatan untuk menjadi pribadi yang lebih baik dengan menanamkan hal positif dalam alam bawah sadar.

Neng
“Neng” didefinisikan sebagai “Jumeneng”. Makna dari kata jumeneng yaitu bermakna sadar, berdiri, dan bangun untuk melakukan tirakat atau semedi. Manusia diminta untuk lebih berkonsentrasi lagi untuk membangkitkan kesadaran dalam batinnya.

Ning
“Ning” diartikan sebagai “Mengheningkan”. Maksudnya, di dalam jumeneng (sadar) kita harus mengheningkan akal, pikiran, perasaan, dan perilaku sehingga saling berkesinambungan. Ketika daya cipta dan rasa saling terhubung akan menciptakan keadaan batin yang hening atau khusuk. Dalam keadaan yang khusuk, Anda akan dapat menangkap sinyal “sukma sejati”.

Nung
“Nung” diartinya sebagai “Kesinungan” yang berarti Terpilih. Setelah seseorang menciptakan Neng (kesadaran) dan Ning (keheningan), maka ia akan terpilih (Nung) untuk mendapatkan suatu hal yang luar biasa. Hal tersebutlah yang masuk ke dalam jiwanya, dan membuat jiwanya seolah-olah memiliki energi positif. Jiwa yang diselimuti energi positif, akan membuat seseorang menjadi lebih bahagia dan mampu melakukan hal bermanfaat bagi orang lain.

Nang
Tahap terakhir adalah “Nang” yang artinya “Menang”. Maksud “menang” dalam tahapan ini yaitu seseorang yang sudah berhasil mengendalikan dirinya dari hal-hal buruk. Jiwanya sudah di isi dengan energi positif yang membuatnya melakukan hal positif dalam hidupnya. Berpikir baik, berperilaku mulia, dan berucap baik yang membuatnya menjadi “pemenang”. Dalam tahapan ini seseorang akan merasa tenang dan bahagia secara lahir dan batin.

Sudahkah Anda mencapai “Neng Ning Nung Nang”
Seperti dituliskan di atas, bahwa “Neng Ning Nung Nang” merupakan tahapan yang berkesinambungan. Dalam konsep alam bawah sadar jawa, “Neng Ning Nung Nang” menunjukkan tahapan kemenangan batin untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Dengan tahapan awal Neng, dan berakhir dengan Nang yang artinya pencapaian telah berhasil.

Bagaimana cara melihat apakah pencapaian “Neng Ning Nung Nang” telah berhasil?
Berikut ciri-cirinya:

Tahap Neng (Sembah Raga)
Tahapan ini merupakan tahapan dasar yang melibatkan dimensi vertikal (Individu kepada Tuhan) dan dimensi horisontal (Individu kepada sesama makhluk hidup lain). Dalam tahapan ini, kita hanya sebatas membiasakan diri untuk melakukan perbuatan baik, kepada Tuhan maupun sesama manusia.
Perbuatan baik kepada Tuhan yang dimaksud merupakan berkaitan dengan riligi atau keagamaan. Sebagai contoh Anda melakukan doa sesuai agama masing-masing dan menjalankan ajaran agama. Hal ini berguna untuk membiasakan diri untuk selalu “eling” atau waspada. Sedangkan perbuatan baik sesama manusia, berkaitan dengan kehidupan bermasyarakat. Seperti saling tolong menolong atau gotong royong dan toleransi.
Karena yang dilakukan masih dasar, terkadang seseorang merasa telah menjadi orang yang paling baik. Bahkan menganggap dirinya memiliki tataran spiritual yang tinggi. Kebaikan yang dilakukan pun masih diliputi oleh hal negatif, ingin dipuji dan diakui .Dalam tahapan ini masih dikuasai oleh sifat “ke-aku-an” yang justru membuat kebaikan yang dilakukan hanya ingin mendapatkan pengakuan.

Tahap Ning (Sembah Kalbu)
Memasuki tahapan yang lebih dalam pada alam bawah sadar. Ning atau hening menggambarkan hari yang bersih dan batin yang selalu sadar (eling) dan waspada. Ning dicapai ketika batin dan hati selaras dalam menjalankan ajaran agama dan melakukan kebaikan yang tulus tanpa sifat “ke-aku-an”. Semua yang dilakukan murni tentang ketulusan hati.
Dalam tahapan sembah kalbu ini akan melibatkan 4 elemen, yaitu:
Tapa ngeli artinya berserah diri kepada Tuhan, menyelaraskan diri dengan alam semesata.
Tapa geniara yang artinya tidak mudah tersulut api negatif tentang ‘ke-aku-an”.
Tapa banyuara, artinya mampu menyaring ucapan orang lain, tidak mudah terprovokasi, dan melakukan analisis terlebih dahulu dalam menanggapi masalah.
Tapa mendhem, artinya tidak membanggakan kebaikan yang dilakukan pada orang lain. Ia akan bersikap rendah hati dan tidak sombong.

Tahap Nung (Sembah Cipta)
Nung atau Kesinungan (terpilih) artinya Anda dipercaya Tuhan untuk mendapatkan sebuah anugrah tertentu. Hal ini dikarenakan perbuatan baik yang dilakukan dengan tulus tanpa pamrih. Ketika perbuatan baik yang dilakukan sinkron secara lahir dan batin, maka akan terwujud tindakan positif yang sesungguhnya. Tindakan tersebut akan menjadi suatu kebiasaan yang tertanam dalam jiwa.
Seseorang yang sudah sampai dalam tahapan ini, akan memiliki batin dan hati yang bersih, tulus, sabar, dan ikhlas.Ia mampu mengenal jati dirinya dan akan memiliki pemikiran yang luas. Sifat-sifat buruk seperti sombong, munafik, hingga fanatik sudah tidak akan ia lakukan. Tahapan ini menyadarkan, bahwa sesungguhnya semua yang kita lakukan, hasilnya akan kita nikmati juga. Ibarat kita menaman “biji kebajikan”, maka hasil tanam “buah kebajikan” tersebut yang akan kita tuai.



Tahap Nang (Sembah Rasa)
Tahapan terakhir yaitu Nang (sembah rasa) yang diartikan sebagai kemenangan. Kemenangan yang dimaksud merupakan hadiah istimewa yang Anda terima atas pribadi yang sudah berjuang mengalahkan nafsu negatif. Dalam kata lain, Anda yang memenangkan pertempuran dalam diri tersebut akan mendapatkan “nur” atau cahaya suci, karena berhasil mengalahkan “nar” atau sifat ke-aku-an. Ia yang sudah berhasil dalam tahap ini, akan menjadi pribadi yang mulia. Antara pikiran, ucapan, dan perbuatan sinkron.

Memasuki tahap ini, seseorang akan merasakan kehidupan yang damai dan bahagia. Tidak lagi memiliki hawa nafsu negatif, semua perbuatan yang dilakukan tulus untuk kebahagiaan semua makhluk.

Demikianlah konsep “Neng Ning Nung Nang” yang merupakan konsep alam bawah sadar dalam filosofi jawa. “Neng Ning Nung Nang” akan menjadi tahapan proses seseorang memasukkan hal positif dalam alam bawah sadar, sehingga menjadi pribadi yang lebih baik.(cz/bel)

 183 total views,  1 views today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *