oleh

Program Utama Pimpinan Baru MUI Jatim

citizen.co.id Surabaya – Pasca ditunjuk sebagai Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur (Jatim), KH. Moh. Hasan Mutawakkil Alallah menyebut, sejatinya ia bukan yang terbaik dari tokoh agama atau ulama yang ada di Jatim.

“Saya (atas kepercayaan ini) harus jujur untuk mengatakan innalillahi wa innailaihi rajiun,” kata Kiai Mutawakkil (sapaan akrabnya putra Almarhum KH. Hasan Saifouridzall ini.

Meski mengganggap ia bukan yang terbaik, namun Pengasuh Pesantren Zainul Hasan, Genggong, Probolinggo ini bertekad untuk menunaikan tanggung jawab hingga 5 tahun ke depan.

Baca juga :

Gus Yaqut Cholil Hadiri Natal Daring di Washington DC

Menhub Cek Penerapan Protokol Kesehatan dan Pelaksanaan Tes COVID-19 di Bandara Soetta

Resmi Penundaan Piala Dunia U-20 Tahun 2021

“Sesuai dengan namanya, Majelis Ulama Indonesia adalah wadah berkhidmatnya para ulama Indonesia dari berbagai macam latar belakang kepada agama melalui tiga komponen penting yaitu umat, bangsa, dan negara,” paparnya.

Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Timur Periode 2008-2018 ini menambahkan, setidaknya ada empat penguatan peran MUI yang akan dilakukan selama 5 tahun kedepan kepengurusannya.

“(Pertama) adalah menjadi mitra pemerintah dalam mendukung pembangunan melalui instrumen keagamaan dan pemerintah,” urai Kiai Mutawakkil.

Sedangkan penguatan kedua, memediasi masyarakat melalui pelayanan keumatan. Lalu yang ketiga menjadi rujukan pemerintah dan masyarakat melalui sejumlah keputusan keagamaan.

“(Keempat) Menjaga harmoni keagamaan di tengah kebhinekaan di masyarakat,” terang Dewan Pertimbangan MUI Jatim 2015-2020 itu.

Untuk dapat melakukan keempat peran itu, alumnus Pesantren Lirboyo Kediri ini menyebut, MUI harus berdamai dengan dirinya sendiri. Sehingga bisa menyelesaikan problem yang lebih besar baik untuk umat, bangsa pun negara.

“Agar dengan selesainya persoalan dengan diri sendiri, MUI Jatim bisa menyelesaikan persoalan umat baik secara umum maupun secara khusus,” tutur kiai kharismatik ini.

Dikatakannya, MUI adalah medan sekaligus sarana dakwah. Karena itu berlaku kaidah lil wasa’ith hukmul maqashid. Dengan demikian, agar sukses, maka dakwah harus merangkul, bukan memukul, apalagi mencangkul.

Harus mendidik, bukan menghardik, apalagi membidik. Harus membina, bukan mencerca, apalagi menghina. Itulah akhlak ulama,” tegas Kiai Mutawakkil.

Kiai Mutawakkil memastikan dalam kepemimpinan lima tahun mendatang akan lebih menonjolkan akhlak tersebut. “Kita harus mengedepankan akhlak ulama dalam melaksanakan tugas-tugas MUI ini,” ia memungkasi.

Seperti diketahui, Kiai Mutawakkil terpiilih secara aklamasi sebagai Ketum MUI Jatim dalam Musyawarah Daerah (Musda), yang digelar selama dua hari (22-23/12/2020) di Surabaya.(cz/bel)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed