oleh

Ponpes Kedungcangkring Jabon, Sambut LPBINU dan Plossa-Amunizer Peduli

Citizen.co.id Sidoarjo — Pondok pesantren di Indonesia mempunyai sejarah panjang dalam menanamkan nilai-nilai Islam dan keindonesiaan. Sehingga, eksistensi pondok pesantren tak lepas dari sejarah perjalanan bangsa, baik dalam memperjuangkan kemerdekaan hingga kini.

Seiring dengan itu, pondok pesantren merupakan sistem pendidikan khas Islam di bumi Nusantara, yang terus berkembang dan menyesuaikan perkembangan zaman.

“Sejak perjuangan Pangeran Diponegoro, semangat perjuangan dilanjutkan para kiai dalam mendirikan pondok pesantren. Meski berada di pinggir desa, pondok pesantren terus melakukan proses pendidikan bagi para santri,” tutur Gus Abi Dawud, salah satu pengasuh Pondok Pesantren Roudlotul Muta’alimin-Muta’alimat, Kedungcangkring Jabon Sidoarjo.

Pelantikan PC GP Ansor Bojonegoro: Hadapi tantangan zaman Pentingnya, Literasi Digital

Menparekraf Sandiaga Uno Sebut Kota Wisata Batu Malang Cocok untuk Destinasi Bulan Madu

Gus Abi Dawud mengungkapkan hal itu, ketika menerima kunjungan silaturahmi tim LPBI Nahdlatul Ulama (NU) Jawa Timur bersama Plossa dan Amunizer pada Selasa 4 Mei lalu.

Pada kesempatan itu, Minggus Hadinata, Brand Activity Executive (BAE) East Java PT Sari Enesis Indah, menyampaikan bantuan berupa, berupa Amunizer Vitamin C 1000Mg Sachet sebanyak 2.160 atau 5 karton dan Plossa inhaler Aromaterapi sebanyak 720 buah.

Ia berharap, bantuan yang diberikan dapat meningkatkan daya tahan tubuh serta membantu mencegah penyebaran Covid-19 di pesantren-pesantren di Jawa Timur yang jumlahnya terbanyak di Indonesia.

Menurutnya, bantuan Plossa dan Amunizer yang disalurkan ke pesantren ini bisa menjadi solusi mencegah penyebaran virus.

“Plossa inhaler ini memiliki fungsi yang bisa melegakan saluran pernafasan. Caranya dioleskan di kain bagian luar masker tiga kali setiap 15 menit sekali, mampu mengusir virus dan napas menjadi plong, karena memiliki kandungan menthol,” kata Minggus, seraya menambahkan, Plossa ada 3 varian, yang salah satu variannya (Plossa Hijau) mengandung eucalyptus.

Sedang Amunizer merupakan minuman herbal alami, yang di dalamnya terkandung buah aldeberry dan zinc yang berfungsi untuk menjaga daya tahan tubuh secara maksimal, agar tidak gampang sakit.

“Jadi lebih dari vitamin C biasa,” tutur Minggus, menambahkan, Plossa mini dan Amunizer sudah bisa dibeli di supermarket, apotek dan toko-toko terdekat.

Kandungan Zat Aktif Eucalyptol

Seperti diketahui, Badan Litbang Kementerian Pertanian berhasil melakukan uji lanjutan terhadap eucalyptus. Hasilnya, zat aktif Eucalyptol dapat menjadi pilihan pengobatan yang potensial, karena berdasarkan hasil uji molekuler docking mampu mengikat Mpro pada virus SARS-CoV-2 sehingga sulit bereplikasi.

Daun eucalyptus memang sudah dikenal sejak lama memiliki banyak khasiat dalam meredakan penyakit seperti gejala batuk, pilek, hidung tersumbat dan penyakit lainya. Eucalyptus sudah banyak digunakan dalam pengobatan di Cina, India, Yunani dan eropa selama ribuan tahun sebagai produk minyak angin, aromaterapi dan balsem. Dalam produk Plossa terdapat kandungan eucalyptus. Yakni, Plossa Minyak Angin Aromaterapi Eukaliptus.

Eucalyptus adalah jenis tanaman asli benua Australia, namun saat ini tanaman eucalyptus sudah banyak tumbuh diberbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Hingga Saat ini ada lebih dari 400 spesies eucalyptus yang berbeda.

Tanaman ini memiliki kulit kayu yang memiliki getah, tanaman ini memiliki batang yang panjang dan daun melingkar yang daunya sulit dicerna jika dimakan secara utuh. Tanaman eucalyptys memiliki khasiat yang berasal dari minyak atsiri, minyak ini berasal dari daun eucalyptus, daun ini kemudian dikeringkan, lalu dihancurkan dan selanjutnya disuling untuk mendapatkan minyak esensial. Nah minyak inilah yang digunakan sebagai parfum, antiseptic, bahan kosmetik dan lain-lain.

Daun Eucalyptus yang diproses dengan disuling akan menghasilkan minyak yang tidak berwarna namun memiliki aroma yang kuat, minyak ini mengandung 1,8 – cineole yang biasa juga dikenal sebagai eucalyptol.

“Ya, kami berharap semua ini merupakan perhatian dan kepedulian bersama dalam memajukan aktivitas pendidikan Islam khas di bumi Nusantara,” tutur Syaiful Amin, Ketua LPBINU Jawa Timur.

Eksistensi Ponpes Kedungcangkring

Dalam mempertahankan keaslian, di Pesantren Kedungcangkring masih tegak berdiri mushala kuno semenjak pesantren tersebut berdiri. Selain itu, ada sebuah gedung yang didirikan pada zaman Menteri Agama KH Wahib Wahab pada zaman Presiden Soekarno, yang sekaligus meresmikannya.

“Saat itu, kakek saya sempat tanya, apakah ini bantuan dari negara atau dari Pak Menteri? Kalau dari negara, saya tidak bisa menerima. Kiai Wahid langsung menjawab, dari beliau sendiri,” tutur Gus Dawud.

Pondok Pesantren Roudlotul Muta’alimin-Muta’alimat, Kedungcangkring Jabon Sidoarjo mempunyai sejarah panjang. Pada tahun 1889 di Desa Kedungcangkring telah berdiri sebuah Majelis taklim yang diasuh KH Asfiya’. Majelis Ta’lim ini awalnya mempunyai 25 santri. Mereka berasal dari daerah sekitar Kedungcangkring sendiri.

Setelah kurang lebih dari 5 tahun berjalan majelis ta’lim tersebut semakin dikenal. Baik oleh penduduk setempat ataupun orang orang dari luar daerah. Sehingga, semakin banyak orang-orang khususnya pemuda yang datang ke Kedungcangkring guna untuk menuntut ilmu agama di majelis ta’lim tersebut. Di antara mereka berasal dari Jawa Tengah, seperti Kudus, yang kemudian bermukim di desa tersebut.

Pada akhirnya. terbentuklah sebuah pondok pesantren dengan jumlah santri 60 anak. Hingga tahun 1929 pendidikan pondok pesantren masih diasuh KH Asfiya’ di bantu putranya, KH Muchyiddin (KH Achmad Aruqot)

Setelah beberapa tahun KH Asfiya’ wafat dan perjuangan diteruskan putranya, KH Muchyiddin. Pendidikan di pesantren
mengalami perkembangan yang sangat pesat. Sayangnya, pada saat Revolusi Fisik setelah 17 Agustus 1945, para santri pulang ke kampung halaman masing-masing, di antara mereka turut berj7uang dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Beberapa saat setelah Proklamasi Kemerdekaan, pondok pesantren mengalami kemunduran dan santri hanya berasal dari daerah sekitar. Pada tahun 1951 pondok pesantren yang belum memiliki. Akhirnya, disebut Pondok Pesantren “Rodlotul Banin” dan pendidikan di pondok juga berangsur-angsur membaik dan normal seperti semula.

Pada tahun 1969 KH Achmad Aruqot wafat dan perjuangannya dilanjutkan KH Asif, KH Muhaimin dan dibantu KH Chayyun (Menantu). Sedangkan pada tahun 1967 KH Chayyun mendirikan pondok pesantren putri yang diberi nama “Roudlotul Banat”.

Beberapa saat kemudian pondok pesantren putra putri diubah menjadi Roudlotul Muta’allimin Wal-Muta’allimat. Pada tahun 1985 KH Chayyun wafat kemudian perjuangan dilanjutkan KH Asif, KH Muhaimin dan putra putra KH Chayyun,
yaitu KH Muharror, KH Mawahibus Shomad, KH Machfudz. Pada tahun 2002 KH Asif wafat dan dilanjutkan putranya, Agus H Shobahus Surur bersama dengan KH Muhaimin, KH Muharror, KH. Machfudz.

Hingga sekarang telah mendirikan pondok masing- masing. “Alhamdulillah, para santri mampu mengembangkan diri selain ilmu yang diperoleh melalui pengajaran resmi,” tutur Gus Abi Dawud, salah seorang pengasuhnya.

Para santri berkesempatan belajar, dengan fasilitgas perpustakaan, laboratorium komputer, Lapangan Futsal, Voly dan Bulutangkis, tenis meja. Selain itu, ada Koperasi Santri, Kantin serta kamar santri dan mushala,.

“Pondok Pesantren akan tetap eksis, meskipun berkembangan zaman terus melaju. Tapi, kami tetap mempertahankan gaya lama dalam pengajaran,” tutur Gus Abi Dawud. (cz/red)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed