citizen.co.id

Polisi Sebagai Pohon Beringin Masyarakat

Oleh Fransiskus Xaverius Lanto
(Anggota Satuan Binmas Polres Kupang)

citizen.co.id Opini – Saya mencintai Polri. Saya bangga menjadi anggota Polri. Saya sangat suka berada dalam lingkungan Polri.
Gambaran kalimat ini mau menunjukkan bahwa lembaga ini akan terlihat indah jika segenap komponen yang ada di dalamnya menampilkan nilai estetika dan membumikan roh etika sesuai regulasi yang ada. Regulasi itu mesti sudah tertanam erat di dalam diri semua anggota dan institusi ini.

Ketika estetika menjadi bagian yang sangat penting dalam lembaga ini, itu berarti masyarakat menginginkan lembaga ini mampu menampilkan nilai-nilai seni. Seni yang dimaksud bukan berarti berbuat atau bertingkalaku seperti selebritis.
Ada banyak program yang diluncurkan dari pemimpin lembaga Polri yang membuat Lembaga lain menjadikan lembaga ini sebagai model. Program ini tidak terlepas dari tugas pokok, peran dan fungsi Polri dalam mendukung kebijakan pemerintah.
Bagaimana lembaga ini menampilkan nilai-nilai seni sangat berkaitan erat dengan cara seseorang masuk ke dalam lembaga ini. Proses inilah yang saya sebut seni dan unik.

Menampilkan nilai seni dan unik tentu harus sesuai regulasi yang ada dan tidak memunculkan image seni dan unik dalam konotasi negatif.

Pertanyaannya ialah apakah polisi mampu menampilkan estetika dalam tugas sehari-hari? Tugas sebagai pelindung, pengayom, pelayan masyarakat, penegak hukum dan menjaga Kamtibmas bukanlah pekerjaan mudah. Kekuatan terbesar dalam mempraktikkan nilai seni sesungguhnya adalah saat masyarakat sungguh merasa tenang dan nyaman karena keberadaan polisi.
Polisi berestetika ialah ketika dia mampu dan laik menjadi model dalam menjaga keamanan dan ketertiban. Fakta bahwa penilaian baik masyarakat sulit dibantah. Meski demikian, kenyataan lain meunjukkan banyak perilaku polisi yang justeru menilai sebaliknya.

Tidak adil memang ketika masyarakat menilai perilaku seseorang dialamatkan kepada institusi. Itu oknum namanya. Arogansi seseorang bisa menjadi penilaian umum secara kelembagaan. Lumrah memang. Hanya sejatinya, polisi tidak seperti perilaku satu dua orang itu. Tugas berat polisi ialah menyatakan ke masyarakat bahwa perilaku satu dua orang oknum bukan mewakili lembaga. Pars pro toto (satu untuk semua) tidak berlaku saat seorang polisi melakukan tindakan melanggar hukum. Itu yang perlu diketahui masyarakat umum.

 

Akar Asih, Asa, dan Asuh
Polisi berakar pada masyarakat. meminjam analogi pohon beringin, polisi secara kelembagaan mesti seperti beringin. Kekuatan akar dan kerimbunan pohon. Sekuat apa pun angin meniup pohon beringin tidak akan goyah. Akar menjadi kekuatan utama di sana. Di titik yang lain, kerimbunan pohon beringin memberi keteduhan bagi siapa pun yang ada di bawahnya. Seni memberi rasa aman dan nyaman pohon beringin sejatinya dapat diadopsi lembaga kepolisian.

Benar bahwa dalam satu dua kasus ada semacam anggapan bahwa pohon beringin ini adalah pohon yang hanya menghadirkan rasa takut karena di sana hidup berbagai banyak hantu dan roh jahat. Itu mitos. Itu karena ada begitu banyak ceritera mistik dari keberadaan pohon ini. Ada banyak legenda yang dikaitkan dengan keberadaan pohon beringin. Semua itu terjadi karena pohon ini memiliki kekuatan.


Di awal tahun ini, Polres Sumba Barat memberikan pelajaran penting. Kapolres Sumba Barat menginginkan secara hirarki, polisi mesti membumikan nilai estetika tersendiri dalam lembaga kepolisian. Polisi sejatinya harus bisa menjadi asah, asi dan asuh bagi sesama anggota dan masyarakat. Dalam konteks hirarki, pelaksanaannya tidak dilihat dari usia tetapi dari kepangkatan atau jabatan. Meski demikian, semangat untuk saling menghormati antarsesama manusia harus diletakan di atas usia, jabatan, dan kepangkatan.

Di atas semuanya itu, polisi harus berakar pada etika. Di kolom ini, saya pernah menggagas ‘Polisi BERTEMAN’. Polisi sesungguhnya adalah teman atau sahabat rakyat. Jika rakyat sudah menganggap polisi sebagai teman dan sebaliknya, suka duka apa pun pasti dirasakan bersama. Sebagai gambaran, Polisi BERTEMAN belum nampak di beberapa oknum anggota Polisi jika di lihat dari beberapa kasus yang terjadi. Nilai Etika sebagai seorang anggota polisi belum ditunjukan.

Bagaimana pun caranya, polisi harus memunculkan simpati dari rakyat. Polisi selalu menjadikan rakyat sebagai mitra utama dalam tugas. Demikianlah memang yang diharapkan. Bahwa polisi harus menjadi sosok yang nyaman bagi rakyat karena ketika ada persoalan di masyarakat, polisi merupakan tempat mencari perlindungan. Dalam pelaksanaan di lapangan, yang dilakukan polisi ialah menjalankan tugas sesuai aturan.

 

Polisi dan Pohon Beringin
Polisi adalah pohon beringin kehidupan sosial. Disebut demikian karena peran dan fungsi polisi berhubungan erat dengan penegakan hukum, menjaga Kamtibmas, sebagai Pelindung, pengayom, dan pelayan. Sasaranya adalah melindungi masyarakat; kepada setiap orang yang memerlukan pertolongan.

Itulah nilai utama analogi polisi dan pohon beringin. Bahwa polisi harus mampu menampilkan figur yang pantas dan laik disebut ”Bapak “ masyarakat; ayah yang selalu memberi hidup dan kehidupan yang aman dan nyaman kepada anggota keluarga besarnya yakni masyarakat.

Secara internal, penyebutan senior-yunior terletak pada masing-masing pihak. Bahwa saya masuk lebih dahulu dari yang lain atau yang lain lebih dahulu dari saya tidak jadi soal. Yang perlu dibangun iala semangat untuk saling menghargai.
Hanya, bagaimana pun, setiap individu memiliki kemampuan berbeda-beda. Di titik itu, masing-masing pihak dituntut untuk menyalurkan kemampuan dirinya demi dan untuk lembaga. Kemampuan polisi secara individual jelas tidak bisa dipakai untuk saling menguasai tetapi demi perkembangan lembaga kepolisian ke depan.


Tantangan kepolisian justeru terletak di sana. Bahwa kepantasan seseorang menjadi polisi ialah saat dia mampu menampilkan kemampuannya bukan hanya untuk diri dan keluarga tetapi terutama untuk masyarakat. Praktik etika dan estetika mendapatkan pemenuhannya ketika polisi menjadi teladan bagi yang lain. Polisi yang beretika dan berestetika ialah saat peran beringin diadopsi dan dipraktikan untuk melindungi masyarakat.(cz/victory)


 617 total views,  1 views today

2 thoughts on “Polisi Sebagai Pohon Beringin Masyarakat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *