oleh

Pertahankan Metode Salaf, Ponpes Tarbiyatunnasyiin Amankan Santri Besama Plossa dan Amunizer

-KHAZANAH-14 views

Citizen.co.id Jombang – Metode salaf dalam pengajaran ilmu agama Islam, mulai banyak tergeser di Pondok Pesantren (Ponpes). Namun, Pondok Pesantren Tarbiyatunnasyiin, Paculgowang Jombang, ini masih mempertahankan metode salafnya. Dengan metode ini, justru dimaksudkan untuk mengamankan para santri dari pengaruh negatif budaya asing melalui teknologi dan informasi yang berkembang pesat saat ini.

Pengasuh Ponpes Tarbiyatunnasyiin, KH Muhammad Shobih mengatakan, alasan mempertahankan pengajaran metode salaf di pesantrennya, merupakan salah satu bentuk mentradisikan apa yang ditinggalkan pendiri dan penerus Ponpes tersebut. Dan hingga kini, tidak ada pembaharuan dalam pengajarannya.


“Ya karena di antaranya memang mempertahankan apa yang dicita-citakan muasis terdahulu, atau pendiri Ponpes Paculgowang. Yaitu dengan tetap mempertahankan murni belajar ilmu agamanya,” ujar Gus Shobih, dalam keterangan Selasa, 22 Juni 2021.

Sri Mulyani: Pertumbuhan Pendapatan Negara Mei 2021 Membaik

Rampung Awal 2022, PLBN Terpadu Serasan Dukung Pertumbuhan Ekonomi di Wilayah Perbatasan

Dijelaskannya, Ponpes berlokasi Dusun Paculgowang, Desa Jatiejo, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, ini berdiri lebih dulu dibanding Ponpes Tebuireng. Pada awalnya, kegiatannya masih sebatas mengaji. Dan sekitar tahun 85-an, mulai dibentuk sekolah. Namun, sekolah plus diniyah hingga sekarang.

“Justru di pondok manapun, santri semakin berkembang. Begitupun dengan diniyah, juga ada perkembangan bagi para santrinya, termasuk di Paculgowang,” ujar putra KH Aziz Manshur.


Dikatakannya, untuk mengimbangi perkembangan zaman, Ponpes Tarbiyatunnasyiin tetap mempertahannya sekolah formal-nya. Namun tetap mengutamakan diniyah dan salafnya. Dari situ, kata Gus Shobih, selain pengetahuan umum termasuk teknologi, santri tetap mendapatkan pengetahuan Islam secara utuh.

“Ya Alhamdulillah, di samping ada Aliyah, sekarang sudah ada Ma’had Aly dan sudah Mu’adalah, yang ijasahnya sudah diseterakan, dan masih dimulai tahun ini. Di mana diniyah sebenarnya juga ada Mu’adalah yang sudah berjalan sekitar 3 tahunan ini. Tetapi ibadahnya Mu’adalah ya tetap diniyah, kurikulumnya diniyah,” kata Gus Shobih, alumni Ponpes Lirboyo Kediri.


Terima Plossa-Amunizer Peduli

Gus Shobih, dengan senang hati menerima kehadiran Ketua LPBINU Jawa Timur, Syaiful Amin dan tim PT Sari Enesis Indah, di kediamannya, di kompleks Pesantren Paculgowang, Jombang, belum lama ini. Pada kesempatan itu, Minggus Hadinata, Brand Activity Executive (BAE) East Java PT Sari Enesis Indah bersama timnya, menyampaikan bantuan Plossa dan Amunizer, yang bisa dimanfaatkan para santri.

Bantuan tersebut, berupa Amunizer Vitamin C 1000Mg Sachet sebanyak 2.160 atau 5 karton dan Plossa inhaler Aromaterapi sebanyak 720 buah. Selain itu, ditambah Plossa berukuran mini dan Air Sejuk, air kesehatan.

“Ya, kami mengucapkan banyak terima kasih. Insya Allah, semua ini akan bermanfaat bagi para santri dan ustadz di sini,” tutur Gus Shobih.


Kepedulian seperti ini, tak hanya dilakukan di Ploso Kediri. Tapi, juga di sejumlah pondok pesantren lainnya di Jawa Timur, yang telah menjadi program peduli PT Sari Enesis Indah.

Minggus Hadinata menjelaskan, pihaknya sangat peduli terhadap pelaksanaan proses pendidikan pesantren di Jawa Timur. Karena itu, selama pandemi Covid-19, sebanyak 18 pondok pesantren menjadi sasaran kepeduliannya agar para santri tetap belajar dengan baik, karena imunitas kesehatannya terjaga dengan baik.

“Kami menyadari, di masa pandemi ini peran tiap sektor sangat dibutuhkan untuk membantu memutus mata rantai penyebaran Covid-19 baik di lingkungan masyarakat maupun lingkungan pendidikan, khususnya di pesantren-pesantren, yang aktif setia harinya,” tutur Minggus Hadinata.


Ia berharap, bantuan yang diberikan dapat meningkatkan daya tahan tubuh serta membantu mencegah penyebaran Covid-19 di pesantren-pesantren di Jawa Timur yang jumlahnya terbanyak di Indonesia.

Menurutnya, bantuan Plossa yang disalurkan ke pesantren ini bisa menjadi solusi mencegah penyebaran virus.

“Plossa inhaler ini memiliki fungsi yang bisa melegakan saluran pernafasan. Caranya dioleskan di kain bagian luar masker tiga kali setiap 15 menit sekali, mampu mengusir virus dan napas menjadi plong, karena memiliki kandungan menthol,” kata Minggus, seraya menambahkan, Plossa ada 3 varian, yang salah satu variannya (Plossa Hijau) mengandung eucalyptus.


Sedang Amunizer merupakan minuman herbal alami, yang di dalamnya terkandung buah aldeberry dan zinc yang berfungsi untuk menjaga daya tahan tubuh secara maksimal, agar tidak gampang sakit.

“Jadi lebih dari vitamin C biasa,” tutur Minggus, menambahkan, Plossa mini dan Amunizer sudah bisa dibeli di supermarket, apotek dan toko-toko terdekat.


Kandungan Zat Aktif Eucalyptol

Belum lama ini, Badan Litbang Kementerian Pertanian berhasil melakukan uji lanjutan terhadap eucalyptus. Hasilnya, zat aktif Eucalyptol dapat menjadi pilihan pengobatan yang potensial, karena berdasarkan hasil uji molekuler docking mampu mengikat Mpro pada virus SARS-CoV-2 sehingga sulit bereplikasi.

Daun eucalyptus memang sudah dikenal sejak lama memiliki banyak khasiat dalam meredakan penyakit seperti gejala batuk, pilek, hidung tersumbat dan penyakit lainya. Eucalyptus sudah banyak digunakan dalam pengobatan di Cina, India, Yunani dan eropa selama ribuan tahun sebagai produk minyak angin, aromaterapi dan balsem. Dalam produk Plossa terdapat kandungan eucalyptus. Yakni, Plossa Minyak Angin Aromaterapi Eukaliptus.

Eucalyptus adalah jenis tanaman asli benua Australia, namun saat ini tanaman eucalyptus sudah banyak tumbuh diberbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Hingga Saat ini ada lebih dari 400 spesies eucalyptus yang berbeda.


Tanaman ini memiliki kulit kayu yang memiliki getah, tanaman ini memiliki batang yang panjang dan daun melingkar yang daunya sulit dicerna jika dimakan secara utuh. Tanaman eucalyptys memiliki khasiat yang berasal dari minyak atsiri, minyak ini berasal dari daun eucalyptus, daun ini kemudian dikeringkan, lalu dihancurkan dan selanjutnya disuling untuk mendapatkan minyak esensial. Nah minyak inilah yang digunakan sebagai parfum, antiseptic, bahan kosmetik dan lain-lain.

Daun Eucalyptus yang diproses dengan disuling akan menghasilkan minyak yang tidak berwarna namun memiliki aroma yang kuat, minyak ini mengandung 1,8 – cineole yang biasa juga dikenal sebagai eucalyptol.

Anggota DPR RI Indah Kurnia Bantu Pelaku Industri Kreatif di Sidoarjo

Wali Kota Semarang Terus Tambah Kapasitas Tempat Tidur Isolasi Pasien COVID-19

Hidup Sederhana dan Santri Mandiri


Pondok Pesantren Tarbiyatunnasyiin, di masa pandemi Covid-19 tetap berjalan proses belajar para santri. Meskipun dengan protokol kesehatan yang ketat, para santri masih mengikuti aturan dan peraturan di Ponpes tersebut.

Sementara keseharian santri, juga tetap mempertahankan tradisi tempo dulu tanpa ada pembeda antara santri satu dengan lainnya. Pengajaran yang diambil, adalah kehidupan sederhana dan kemandirian para santri.


“Dalam pondok atau asrama juga masih seperti asrama orang dulu. Tidak ada kasurnya. Tujuannya memberikan pelajaran pola hidup sederhana. Di pondok juga tidak ada yang dimanjakan. Sekitar 500-an santri putera-puteri di sini, perlakuannya semuanya sama,” kata KH Muhammad Shobih.

Terkait ilmu salaf sendiri, kata Gus Shobih, sebagai bentuk pendalaman dalam belajar agama, fokus terhadap ilmu agama tersebut. “Saya juga terus memotivasi para santri agar nanti kalau sudah selesai mondoknya, tetap bisa hadir dan berkumpul dengan masyarakat dan bermanfaat,” katanya.


Dengan banyaknya Ponpes modern saat ini, Gus Shobih berkomitmen untuk tetap mempertahankan salaf di Ponpes yang dipimpinnya tersebut. Pihaknya tidak ingin, pengejaran salaf pudar begitu saja. Justru metode salaf itulah yang khas dalam tradisi pendidikan Islam di bumi Nusantara. (cz/bel)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed