oleh

Penutupan Pasar Keputran Utara Lambungkan Harga Sayur di Surabaya

citizen.co.id Surabaya – Imbas penutupan Pasar Keputran Utara tidak hanya dirasakan pedagang di area tersebut. Ditutupnya pasar itu sejak Selasa (21/7) berdampak lebih luas. Yakni, harga sayur-mayur di pasaran. Sejumlah pedagang di pasar lain menaikkan harga dagangannya karena harga dari penyuplai juga melambung.

Misalnya, yang diungkapkan Diana, pedagang sayur di Pasar Wonokromo. Harga aneka sayuran di lapaknya naik sejak dua hari terakhir. Penyebabnya, Pasar Keputran Utara, tempat Diana kulak, terpaksa ditutup dengan alasan persebaran Covid-19.

’’Saya sekarang belinya di Pasar Mangga Dua selama tutup,’’ ucapnya. Harga sayur-mayur sudah tinggi di pasar itu. Kondisi tersebut berpengaruh pada dagangan yang dijual.

Baca juga :

Puncak Musim Kemarau Akan Terjadi Pada Bulan Agustus Nanti

Rencana Uji Swab di Pasar Kaputran

Masjidil Haram Tutup Saat Idul Adha

Misalnya, cabai merah besar. Sebelum Keputran Utara ditutup, Diana menjualnya Rp 15 ribu per kilogram. Setelah Keputran ditutup, harganya menjadi Rp 25 ribu per kilogram. Buncis juga naik. Dari semula Rp 8 ribu per kilogram kini jadi Rp 12 ribu per kilogram.

Komoditas lain pun demikian. Daun bawang yang biasanya Rp 12 ribu per ikat jadi Rp 15 ribu per kilogram. Efek melambungnya harga sayur-mayur membuat beberapa pembeli sempat kaget, lantas menawar dagangannya. ’’Ya saya bilang kalau dari belinya sudah naik,’’ kata perempuan 22 tahun itu.

Berdasar informasi yang dihimpun, sejak Keputran Utara ditutup, banyak penyuplai yang pindah ke pasar Mangga Dua. Mereka menjual dagangan ke pasar tersebut sejak senja hingga pagi.

Naiknya harga sayur terjadi karena terkendalanya jalur distribusi. Sebab, pasar Keputran Utara sebagai pasar induk sayur di Surabaya ditutup. Kondisi itu membuat harga di pasaran terganggu dan mengalami kenaikan.

Dira, pedagang pasar Keputran Utara, mengatakan bahwa melambungnya harga sayur di Surabaya bisa jadi karena pasarnya ditutup. Sebab, Pasar Keputran Utara menjadi pusat kulakan untuk penjualan sayur-mayur.

’’Pasar-pasar kecil di Surabaya itu beli ke kami,’’ jelasnya. Bahkan, stok di Keputran biasa dikirim ke luar kota. Dira sendiri sudah punya banyak langganan di pasar-pasar. Mulai Pasar Genteng, Tambak Wedi, Dukuh Kupang, hingga ke wilayah lain seperti Madura.

Keputran menjadi jujukan karena harga sayur dikenal paling murah. Sebab, semua pedagang membeli sayuran langsung ke petani di beberapa wilayah Jatim. Antara lain, Probolinggo, Pasuruan, Batu, hingga kawasan Bromo dan sekitarnya.

Saat ini beberapa petani memilih menahan stok mereka. Yang akan didistribusikan lagi setelah Pasar Keputran Utara kembali dibuka. ’’Ada petani yang tetap menjual, utamanya beberapa jenis sayur yang mudah busuk,’’ jelasnya.

Ketua KPPS (Kumpulan Pedagang Pasar Surabaya) Hakim Muslim menjabarkan, penutupan Pasar Keputran Utara oleh pemkot bisa jadi bukan solusi. Melainkan justru memberatkan ekonomi warga. Terutama pedagang dan pembeli yang terdampak penutupan Pasar Keputran Utara.

Sebelum ditutup, KPPS telah berkomunikasi dengan pemkot. Mereka minta penutupan pasar tidak dilakukan selama sepekan, tetapi cukup tiga hari. ’’Karena Keputran ini pasar induk,’’ ucapnya. Hakim mengetahui mulai kemarin harga beberapa jenis sayuran naik.

KPPS jelas menyayangkan penutupan pasar. Seharusnya, yang ditutup adalah stan-stan tertentu. Yang pedagangnya memang dinyatakan positif. Pembersihan pasar juga bisa dilakukan lewat lapak-lapak. Tidak malah menutup seluruhnya.(cz/bel)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed