citizen.co.id

Pemimpin yang Menyiksa Bawahannya

Pemimpin yang Menyiksa Bawahannya

Oleh: Andre Vincent Wenas

citizen.co.id Opini – Walau anak buah pintar, tapi kalau teladan dan arahan dari pimpinannya ngaco maka ngaco pulalah kelakuannya.

Ini terbukti di manajemen pemerintahan kota Jakarta saat ini. Dulu saat dipimpin Gubernur Joko Widodo, Basuki Tjahaja Purnama sampai ke periode Djarot, terasa sekali semua jajaran birokrasi bisa terorkestrasi dengan baik.

Terorkestrai dengan baik artinya jelas arahan dan disiplin organisasi yang diterapkan. Mereka yang melenceng dari visi gubernur dan korupsi langsung tergeser. Tak ada kompromi.

Program pembangunan yang sebesar-besarnya untuk kepentingan rakyat banyak (bonum commune) betul-betul terasa dalam setiap tahapannya. Roda pembangunan berjalan dan bisa dinikmati oleh masyarakat luas. Contohnya banyak sekali.


Juga gerombolan atau ormas preman yang nebeng hidup dan jadi lintah penghisap darah APBD ibu kota dibabat habis. Sampai mereka pun ngamuk dan ikut berkonspirasi dengan oknum birokrat maupun parlemen yang memang rakus. Menyusun rencana jahat menggulingkan pemimpin yang baik. Segala cara pun dihalalkan.

Dengan diberantaskan lintah-lintah APBD saat itu, disertai kebijakan transparansi anggaran, dampak positif pembangunannya jelas nyata. Anggaran kota yang diperoleh dari pajak rakyat pun bisa diredistribusi dalam bentuk infrastruktur. Dan bisa untuk mendanai program pembangunan manusia (kesehatan, pendidikan dan kebersihan kota).


Pemimpin yang mendidik bawahannya. Menginspirasi dengan teladan, memberi contoh dengan sikap perilakunya sendiri. Itulah pemimpin sejati. Mendidik dengan disiplin dan akhlak yang baik.

Jangan korup, mulai dari diri sendiri. Sehingga aparat birokrasi yang dipimpinnya ikut terkontaminasi secara positif. Ikut-ikutan bersih. Dan ini baik adanya. Kepemimpinan yang baik itu menular. Pertama-tama menular kepada timnya, kepada bawahannya.

Proses seleksi aparat yang duduk dalam jabatan-jabatan organisasi bisa berjalan dengan semestinya. Meritokrasi diterapkan, lelang jabatan terbuka bagi mereka yang kompeten dan berani bertanggung-jawab terhadap capaian kinerja. Bukan nepotisme dan kongkalikong di balik tirai balai kota yang sekarang tertutup rapat.

Ketertutupan dan konspirasi bancakan anggaran sudah terang benderang sekarang ini. Sejak proses perencanaan APBD tahun lalu, banyak sekali kutu-kutu yang terkena sisir. Namun tanpa malu mereka jalan terus. Rasa tahu malu dan tahu diri sudah terkubur nafsu kekuasaan dan terjerat dewa fulus.

Seakrang, rasa muak sudah rata membanjiri sanubari penduduk kota. Ini tak bisa dikelabui dengan pura-pura bahagianya sebagian ormas yang baru terima dana hibah dari APBD.

Aparat birokrasi yang dipimpin pemimpin yang zalim seperti ini memang menyedihkan. Janji rumah dengan uang muka (DP) nol persen sudah lenyap disapu isu banjir bertubi-tubi. Pejabatnya pun barusan dipecat oleh si pemberi janji lantaran dianggap tidak bisa merealisasikan janji surganya.


Kambing hitam bakal banyak bergelimpangan. Demi menutupi rasa malu (kalau masih ada).

Sampai-sampai pejabat sekelas Sekda, ini posisi pejabat karir tertinggi di pemerintahan daerah, mesti berakrobat lidah dan toh akhirnya jatuh berantakan dengan narasi yang bodoh. Bahkan terkesan idiot. Kasihan memang.

Jejak digital tentang pernyataan-pernyataan bodoh dari aparat pembantu maupun dari gubernurnya sendiri bertebaran banyak di media sosial dan media elektronik. Dalam era teknologi internet seperti sekarang ini mudah sekali untuk melacaknya kembali.


Para bawahan gubernur ini seperti disiksa habis-habisan oleh pemimpinnya sendiri. Bukan untuk mengejar target pembangunan yang sebesar-besarnya demi kemaslahatan rakyat banyak. Tapi demi menutupi aib sang pemimpin itu sendiri. Sungguh terlalu.

Kita bisa bilang, sangat memalukan! Tapi sayang rasa malu sudah tidak ada di muka sang atasan yang tebal bukan kepalang. Entah karena merasa adigang-adigung-adiguna lantaran dibekingi orang besar lain yang selama ini mengendalikan operasi gelap bancakan negara dari belakang layar. Sang ahli tikam dari belakang punggung.

Prihatin dengan kondisi birokrasi yang berantakan di ibu kota. Sistemnya rusak dan orangnya pun cuma jadi boneka badut bahan tertawaan.

Tertawaan yang akhirnya mengalihkan isu sesungguhnya. Yaitu penderitaan rakyat Jakarta, akibat konspirasi busuk wakil rakyat yang berkhianat, para pejabat birokrasi dan beking yang mengendalikan operasi politik bancakan selama ini.

Bersama ini kita menggugat. Menggugat pemimpin yang hanya bisa menyiksa bawahannya. Dan akhirnya menyiksa rakyatnya. Stop! (cz/jos/bel)


#SaveJakarta #SelamatkanJakarta

Andre Vincent Wenas, Sekjen Kawal Indonesia – Komunitas Anak Bangsa

 805 total views,  2 views today

One thought on “Pemimpin yang Menyiksa Bawahannya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *