oleh

Pekerja Migran Dibekali Ketrampilan Berbahasa Asing

Citizen.co.id Surabaya – Penyiapan ketrampilan bahasa, mental dan pengenalan budaya negara, merupakan bekal yang harus disiapkan bagi calon Pekerja Migran Indonesia (PMI) untuk bekerja ke luar negeri.

“Penyiapan ketrampilan mulai dari bahasa, etika, kebiasaan, ketrampilan dan pengetahun budaya negara yang akan dituju merupakan bekal yang sangat penting mampu mengatasi jika terjadi masalah selama bekerja,” kata Kepala UPT Pelayanan dan Perlindungan Tenaga Kerja (UPT P2TK) Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Jatim, Budi Raharjo, saat Layanan Podcast e-Kanal simPADU, Jumat (2/7/2021).


Lebih lanjut dikatakannya, untuk mengimplementasikan peran pemerintah sesuai amat UU 18 tahun 2017 yang mewajibkan menghadirkan pelatih bagi calon PMI, BLK Wonojati Malang milik Pemerintah Prov Jatim menyiapkan instruktur bahasa kantonis & Inggris yaitu Urifah dan Istiyah.

Tiga Kerangka Strategi Pemerintah Hadapi Lonjakan Kasus Covid-19

Ini langkah Forkopimda Jatim Dalam Penerapan PPKM Darurat

Dikatakan Budi, hasil wawacara menjadi tahapan milestone awal yang penting keterlibatan BLK Pemerintah dan pemprov Jatim dalam bisnis proses perlindungan pekerja migran Indonesia. Setelah menyelesaikan pelatihan sejumlah 600 jpl, para calon PMI akan mengikuti uji sertifikasi yang dilakukan oleh Lembaga Sertifikasi Profesi khusus PMI.


Salah satu instruktur bahasa kantonis dan Inggris, Urifah menjelaskan, dengan turut bergabungnya di BLK Pemerintah merupakan suatu penghormatan dan kebanggaan. Tantangan terberatnya yakni perbedaan karakter dan kemampuan calon PMI beserta latarbelakang dan mungkin motivasi calon PMI memilih ingin bekerja ke luar negeri.

“Kami butuh kesabaran, kreativitas dan pendekatan personal agar mereka segera bisa dan terampil. Selain itu, juga diajarkan cara beradaptasi dan mental pantang menyerah agar mampu mengatasi jika terjadi masalah selama bekerja,” katanya.


Menurutnya, perbedaan penting setelah menjadi instruktur di BLK Pemerintah, tidak ada tekanan (pressure). “Tugas kami full 600 jpl mengajari calon pmi sampai bisa dan trampil. Kami diberi kebebasan namun tetap norma-norma dan standar kurikulum pelatihan, kebersihan serta kedisplinan selama diasrama wajib dipatuhi bersama,” tambahnya.(cz/bel)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed