Merasa Didengar oleh AI, Tapi Kehilangan Sentuhan Manusiawi

Oct 24, 2025 - 12:23
Merasa Didengar oleh AI, Tapi Kehilangan Sentuhan Manusiawi
Ilustrasi Curhat dengan Chatbot AI (aihub.id)

Denpasar - Psikolog Klinis RSUD Wangaya Kota Denpasar, Nena Mawar Sari, mengingatkan masyarakat agar berhati-hati ketika terlalu sering mencari dukungan emosional atau curhat kepada kecerdasan buatan (AI).

Ia menilai interaksi semacam itu dapat menimbulkan dampak psikologis karena AI tidak memiliki sisi kemanusiaan yang sesungguhnya.

“Curhat dengan AI itu kan gambaran atau pantulan dari kode atau clue yang kita berikan. Tentu hasil atau feedback yang diberikan tidak ada unsur-unsur humanisnya,” ujar Nena melalui pesan suara kepada ANTARA, Jumat (24/10/2025).

Menurut Nena, saat seseorang bercerita atau mencurahkan perasaan, yang sebenarnya dibutuhkan adalah tanggapan emosional yang nyata dan berkesinambungan. Namun, karena respons AI murni berbasis algoritma, hal ini berpotensi menimbulkan salah tafsir atau kehilangan arah emosional bagi penggunanya.

“AI itu sifatnya memberikan pantulan dari apa yang kita butuhkan dan memvalidasi perasaan kita. Takutnya ketika momen orang sedang depresi atau impulsif dijadikan acuan yang baku, bisa terjadi salah interpretasi. Tidak ada sentuhan humanistiknya itu yang berisiko menyebabkan kejadian yang tidak diinginkan,” jelasnya.

Ia menambahkan, tanda-tanda seseorang mulai terlalu bergantung secara emosional pada AI bisa terlihat dari perubahan perilaku, seperti enggan berinteraksi dengan manusia, terlalu sering mengecek ponsel, hingga menjadikan AI sebagai tempat bertanya untuk hal-hal kecil.

“Biasanya orang seperti ini akan bersikap antisosial. Segala hal ditanyakan ke AI, bahkan untuk urusan yang sederhana,” katanya.

Sebagai langkah pencegahan, Nena menyarankan agar masyarakat yang merasa kesepian atau tidak memiliki tempat untuk bercerita sebaiknya mencari bantuan profesional, seperti konselor, psikolog, atau psikiater. Alternatif lainnya adalah menulis jurnal (journaling) atau berbicara dengan orang-orang terdekat yang dapat dipercaya.

“Jika merasa tidak punya teman untuk curhat atau merasa tidak ada yang memahami, lebih baik journaling atau berbagi dengan satu dua orang yang benar-benar bisa dipercaya,” tutur Nena.

Ia berharap masyarakat dapat lebih bijak memanfaatkan teknologi, terutama ketika melibatkan aspek perasaan dan kesehatan mental.

“Teknologi memang membantu, tapi jangan sampai kita kehilangan sisi kemanusiaan kita sendiri,” pungkasnya.