oleh

Menteri Bintang Apresiasi Kebijakan Sekolah Tatap Muka di Zona Hijau Covid-19

citizen.co.id Gunungsitoli – Satu tahun sudah kasus virus corona Covid-19 melanda Indonesia. Pertambahan kasus harian masih terus terjadi. Jumlah pasien yang terinfeksi Covid-19 di Indonesia berdasarkan data Kementerian Kesehatan per 16 Maret bertambah 5.414. Penambahan itu menyebabkan kasus Covid-19 di Indonesia kini mencapai 1.430.458 orang.

Tingginya kasus Covid-19 membuat banyak kegiatan masyarakat terganggu. Salah satu yang terkena imbas adalah kegiatan belajar mengajar di sekolah. Sekolah dengan wilayah zona merah Covid-19 diharuskan menerapkan metode pembelajaran jarak jauh dengan memanfaatkan media internet.


Namun hal berbeda terjadi di Kota Gunungsitoli, Kepulauan Nias, Sumatera Utara. Di sana, sekolah tingkat SD, SMP dan SMA sudah membuka kegiatan belajar mengajar secara tatap sehubungan dengan kasus Covid-19 yang sudah melandai.

Ketua DPD RI dukung Candi Borobudur jadi cagar budaya kelas dunia

Ketua DPD RI dukung Candi Borobudur jadi cagar budaya kelas dunia

Satgas Covid-19 Kota Gunungsitoli mencatat, per tanggal 16 maret 2021, jumlah kasus Covid-19 di Kota Gunungsitoli sejak awal masuknya kasus pada Juni 2020 berjumlah 694 kasus, dengan rincian 17 kematian dan sembuh 677 kasus. Saat ini diketahui tidak ada kasus aktif. Artinya, kasus Covid-19 di Kota Gunungsitoli sudah terkendali.

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy bersama dengan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Gusti Bintang Pusapayoga berkesempatan mengunjungi SDN 070975 Gunungsitoli dan SD Muhammadiyah Gunungsitoli. Kunjungannya tersebut dilakukan untuk mengecek keberlangsungan kegiatan pembelajaran tatap muka.

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Gusti Bintang Pusapayoga mengapresiasi pelaksanaan belajar tatap muka di Kota Gunungsitoli. Dia menilai, pelaksanaan belajar tatap muka sudah mematuhi protokol kesehatan dengan baik, seperti kewajiban menggunakan masker bagi murid dan guru, serta diterapkannya sistem shift untuk menerapkan jaga jarak antar murid.

“Kami sangat mengapresiasi. Kementerian PPPA tetap komit bagaimana pembelajaran tatap muka kalo 5 siap itu ya harus dilakukan.
Apalagi disini sudah hijau. Keputusan pak menko kita sangat dukung karena ringankan perempuan sendiri karena sejak pandemi buka layanan 119 ext 8 sejiwa itu banyak ibu ibu yang tidak kuat dengan tugas multi peran sebagai pendamping suami pendidik anak, ibu rumah tangga. Kini juga harus jadi guru juga,” tegas Menteei Bintang, usai meninjau pelaksanaan kegiatan belajar tatap muka di SDN 070975 Gunungsitoli, Rabu (17/3/2021).

“Tadi saya lihat sudah bagus sekali. Mematuhi protokol kesehatan, kemudian dibikin shift masuk sekolahnya,” ujarnya

Dalam kesempatan itu, Menko PMK didampingi Menteri PPPA Bintang Puspayoga, Wakil Walikota Gunungsitoli, Sekda Provinsi Sumatera Utara, dan jajaran Eselon I Kemenko PMK, dan perwakilan BKKBN, Kemensos, Kemenkes, Kemendikbud.

Bintang Puspayoga pun mengapresiasi kebijakan Pemerintah Kota Gunungsitoli yang telah memulai kegiatan sekolah tatap muka. Dia juga meminta agar daerah lain di Indonesia dengan status zona hijau dan kuning untuk berani memulai sekolah tatap muka.

“Saya juga sarankan wilayah zona hijau dan kuning seperti di Kepulauan Nias ini sudah harus ada proses belajar mengajar. Jangan ikut-ikutan yang lain yang memang posisinya berada di status zona merah,” tuturnya.

Ia menjelaskan, dibukanya kegiatan sekolah tatap muka di daerah-daerah zona hijau seperti di Kota Gunungsitoli dan Kepulauan Nias merupakan kesempatan untuk mengejar ketertinggalan dari kota-kota besar.

“Justru kesempatan sekarang bagi wilayah yang tertinggal seperti Kepulauan Nias ini untuk mengejar siswa-siswa yang berada di kota yang lebih terdepan,” terangnya.(cz/bel)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed