citizen.co.id

Memahami Struktur Hutang Fantastis BUMN

Memahami Struktur Hutang Fantastis BUMN

Oleh: Andre Vincent Wenas,DRS,MM,MBA. & Alouisius Maseimilian,SE,MBA,MSc,PhD.

citizen.co.id Ruang Publik – Bagaimana memahami soal penumpukan hutang ini ? Ini contoh kasus. Baru-baru ini PT Krakatau Steel Tbk (KRAS) menuntaskan program restrukturisasi utang-utang dengan nilai fantastis mencapai US$2,2 miliar atau sekitar Rp 30 triliun.

Upaya restrukturisasi ini telah dilakukan sejak akhir 2018 dan akhirnya tuntas di awal 2020 ini. Dengan restrukturisasi utang ini, ada skema keringanan tenor pinjaman hingga bunga kredit sehingga beban KRAS makin ringan. Harapannya dalam jangka panjang bisa melunasi kewajiban-kewajibannya.

Pertanyaannya, bagaimana kalau perhitungan di atas kertas ini meleset? Harus pula diantisipasi, apa yang mesti disiapkan dalam tindakan-tindakan korporasi (corporate actions) selanjutnya?

Ditengarai melalui proses restrukturisasi hutang ini KRAS bakal mampu berhemat US$685 juta atau Rp 9,3 triliun. (Sumber: https://www.cnbcindonesia.com/market/20200201170950-17-134478/bos-krakatau-steel-buka-bukaan-soal-utang-fantastis-rp30-t)


Pertanyaannya bagaimana sebuah perusahaan, termasuk BUMN produsen baja ini bisa punya utang dengan nilai yang begitu fantastis?

Dari penjelasan yang diberikan Direktur Utama KRAS Silmy Karim ada beberapa indikasi yang bisa dibaca. Ia mengatakan utang ini sebagian besar berasal dari kebutuhan dana untuk menutupi investasi perusahaan di masa lampau.

Namun, terjadi mismatch antara investasi dan realisasi business plan-nya. Meski investasi besar tapi sayang tidak menghasilkan keuntungan seperti diharapkan.


Kata Dirut Silmy, “Jadi, kalau ditanya utang buat apa, ya satu buat investasi, tetapi investasi tersebut tidak menghasilkan tambahan penjualan dan juga keuntungan. Kemudian ada pembayaran utang menggunakan utang. Mismatch lah.”

Posisi utang yang menumpuk tentu saja makin membebani neraca keuangan perusahaan. Pada KRAS terjadi sejak 10 tahun terakhir.

Dirut Silmy bilang, kebutuhan investasi perusahaan yang ia maksud porsi terbesarnya berasal dari investasi pembangunan pabrik blast furnace. Disinyalir nilainya mencapai Rp 10 triliun.

Anehnya, atau sayangnya setelah konstruksi beres dan pabrik mulai beroperasi, manajemen perusahaan memutuskan untuk menghentikan operasi pabrik. Alasannya biaya operasionalnya kemahalan. Lho kok?

Selain itu, terdapat kebutuhan investasi lainnya dengan nilai mencapai kisaran Rp 3 triliun hingga Rp 5 triliun. Mengenai ini tidak ada penjelasan lebih lanjut.

Jadi total itu separuh buat investasi tapi investasinya nggak maksimal tidak sesuai rencana bisnis. Ini tentu lantara business-plan yang tidak akurat atau tidak disiplin dalam mekanisme review-nya.

Untuk memahami lebih gamblang soal utang KRAS dan struktur utang di banyak BUMN lainnya, kita mesti membedah lebih jauh informasi yang dideklarasikan di dalam laporan keuangan teraudit.

Secara sederhana, struktur utang perusahaan dapat kita bedah sebagai berikut:

Cermati neraca (balance-sheet). Disitu senantiasa tercantum jumlah hutang jangka pendek dan hutang jangka panjang.

Pertama, hutang jangka pendek. Cermati working-capital (modal kerja) dan kewajaran dalam perhitungan kebutuhannya.


Dalam hutang jangka pendek yang merupakan modal kerja (working capital) secara sederhana dihitung dari perputaran omset (revenue) dengan cycle (siklus) pembelian bahan baku (raw materials) yang masuk ke inventory. Lalu proses produksi, menjadi finish-goods (barang jadi) masuk ke inventory juga, dan lalu tagihan (account receivables).

Apabila terjadi penumpukan di dalam komponen-komponen di atas maka secara operasional boleh dibilang terjadi inefisiensi. Hal ini haruslah diteliti lebih lanjut.

Seperti misalnya, jika produksi lancar maka pembelian bahan baku akan cenderung tinggi. Namun jika kemudian terjadi penumpukan barang jadi di gudang, maka mesti dicari penyebabnya, apakah ada masalah delivery (pengiriman), atau masalah lainnya.

Atau bisa juga inventory barang jadi dengan jumlah yang rasional (setara satu bulan penjualan) namun terjadi jumlah tagihan yang tinggi. Hal ini juga mesti diteliti lebih lanjut. Karena bisa saja penjualan tersebut terjadi kepada ‘related parties’ (pihak-pihak terkait) yang rawan disalahgunakan. Dan ini bisa jadi semacam ‘free-working-capital’ bagi ‘related parties’ tadi. Subsidi modal kerja gratis kepada pihak terkait.

Kedua, hutang jangka panjang. Kredit investasi. Sudah dijelaskan terjadi investasi, misalnya project blast furnace yang iddle (mangkrak) saat siap beroperasi. Dan ini sudah bertahun-tahun, mengakibatkan akumulasif loan (pinjamannya) nya meningkat terus.

Padahal hal, dalam kasus seperti ini seyogianya sudah harus dilakukan cut-off. Atau dapat juga diusulkan untuk dibuatkan subsidiary terpisah, khusus untuk mengelola project blast furnance sampai jadi. Sehingga ada konsentrasi dan fokus.


Manakala project selesai dan berjalan dengan baik dan menghasilkan kinerja yang positif, maka kemudian dapat dikonsolidasikan kembali ke perusahaan induk.

Dengan cara sedemikian akan memberi gambaran yang lebih baik (sehat) dalam neraca dan laporan laba-rugi (profit and loss) perusahaan induknya.

Kemudian cara lainnya lewat dibentuknya investment-committee (komite investasi). Ini untuk pengambilan kebijakan moratorium investasi saat ini. Dan investment committee ini hanya memberikan persetujuan atas capital expenditure tahunan. Hal ini untuk menghindari tambahan hutang dan beban bunga.


Untuk investasi (capital expenditure) yang jumlahnya tidak signifikan bisa langsung oleh dewan direksi. Serta alternatif pembiayaannya bisa melalui pinjaman lunak, misalnya export credit agency (ECA).

Senantiasa mesti diingat, bahwa prinsip berhutang dalam usaha adalah demi pertumbuhan (growth). Jaga rasio hutang terhadap modal (debt to equity ratio) yang sehat. Misalnya 70 banding 30. Tujuh puluh persen hutang dengan modal sendiri sebesar 30 persen.

Perhatikan juga debt service coverage ratio, kemampuan menyicil hutang dan bunga dari produktivitas perusahaan. Jangan sampai jebol.

Tatkala keputusan untuk mengambil hutang, harus selalu hati-hati (prudent), jangan sampai berhutang hanya demi menutup hutang sebelumnya. Gali lubang tutup lubang. Jadi lingkaran setan. (cz/avw)

Andre Vincent Wenas,DRS,MM,MBA. & Alouisius Maseimilian,SE,MBA,MSc,PhD. – keduanya konsultan senior berdomisili di Jakarta.

 859 total views,  1 views today

2 thoughts on “Memahami Struktur Hutang Fantastis BUMN

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *