oleh

Melalui Pertunjukan di Jatim Art Forum, Seniman Teater Berikan Pesan Pada Masyarakat

Citizen.co.id Batu – Hari kedua rangkaian acara Jatim Art Forum 2021 yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jawa Timur terasa begitu meriah. Pada Rabu malam (10/21) disuguhkan pertunjukan teater yang luar biasa oleh Komunitas “Forum Aktor Jatim” dan Komunitas “Payung Hitam”.

Forum Aktor Jatim adalah Program Teater Dewan Kesenian Jawa Timur (DKJT) merupakan sebuah forum kerja aktor yang lahir dari platform workshop ‘tumbuh bersama’ dengan beberapa pemateri luar dan dalam (jatim), melibatkan para aktor dari beberapa kota/kabupaten dengan melakukan praktik-praktik seni kolektif dan kolaboratif, berbasis laboratorium keaktoran.

Forum Aktor Jatim menampilkan karyanya dengan judul “Kantil, Tumpang Tindih Kematian” yang merupakan naskah dari Yusril Ihza dari Surabaya dengan Kolaborator Dyah Ayu Setyorini (Sidoarjo), Fatihuddin (Gresik), Fayat Muhammad (Sumenep) Ma’rifatul Latifah (Bangkalan), Muhammad Alfin Haris (Pasuruan), Taslimul Muhajirin (Lamongan).

Galuh Tulus Utama selaku Depertemen Teater DKJT menjelaskan bahwa pertunjukan yang digagas oleh Forum Aktor Jatim ini pemberikan pesan kepada audiens mengenai lahirnya kematian adalah sebuah kisah di dalam kisah, yang terus tumbuh sebagai narasi tak terduga. mencengangkan, sebrang-menyebrang (trans) dan kita akan terus menyaksikannya di dalam KANTIL.

DPW PPP Jatim salurkan bantuan ke korban banjir bandang kota batu

Menangkar Peluang Kebangkitan Ekonomi Pasca Vakinisasi Nasional

Komunitas Teater selanjutnya yang tampil adalah Payung Hitam yang merupakan komunitas Teater asal Bandung yang dibentuk Rachman Sabur pada 1982, di Bandung. Awalnya mereka membawakan drama realis karya para penulis Indonesia. Lalu, mereka mengeksplorasi berbagai hal untuk menemukan bentuk ekspresi dan gaya pementasan yang cocok.

Payung hitam menampilkan karya dengan judul “Normal Baru/Urab Lamron”. Rachman Sabur selaku sutradara pertunjukan ingin menyampaikan pesan kepada audiens sebuah proses penciptaan, di mana kreativitas akan menjadi tumbuh bersama meski pertemuan kali ini cukup singkat. Sebagai pemicu pembacaan atas tubuh, kita mencoba masuk ke ruang-ruang terdekat yang masih menjadi bagian dari problem kita bersama, yaitu bergulirnya isu-isu pembatasan atas ruang gerak melalui trigger COVID 19.

“Meski sebenarnya ruang gagas ini bisa sama sekali kita tinggalkan dan kita berpindah ke ruang gagas lainnya, namun di tengah berkelindannya isu-isu sosial, lingkungan, politik, agama, dan lainnya, intinya semua isu yang diciptakan manusia, akan mengarah pada ke tidak berdayakan manusia itu sendiri. Sebagai tubuh individu maupun tubuh sosial, manusia menjadi objek bagi manusia yang lain. “Manusia” telah mengingkari kehadirannya di bumi ini sebagai sejatining manungso” lanjutnya Rachman

Lebih lanjut Presidium DKJT Luhur Kayungga berharap Teater Jawa Timur hendaknya bisa merawat keyakinan dan intensitas dalam berproses, karena itu sebuah keniscayaan untuk berkembangnya sebuah kekaryaan.

“Program Jatim Art Forum mempunyai serangkaian program seni salah satunya teater, pada program ini kita ingin melihat sejauh mana pelaku teater di Jawa timur mempunyai prespektik yang lain melihat teater hari ini” pungkas Luhur.(cz/Del)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed