oleh

LPBH NU Jatim Bakal Perkarakan Tindakan Kekerasan Oknum Linmas Surabaya

-DAERAH-0 views

Citizen.co.id Surabaya – Ketua LPBH-NU Jatim Makruf Syah didampingi bendahara PWNU Jatim H Rasyidi yang notabene orang tua dari Fanhas Al-Rasyid (15) mengkritik ulah oknum Linmas Kota Surabaya yang terlalu arogan dan represif saat menggelar operasi kamtibmas di wilayah kawasan jalan Dupak Grosir Bubutan Surabaya pada Rabu (14/04/2021) dini hari.


Alasannya, kata Makruf Syah, oknum Linmas tersebut salah tangkap atau salah sasaran. Bahkan perlakuan represif petugas itu mengakibatkan salah seorang anak luka-luka dan trauma berat.

Wakil Ketua KIP NTT: Pertanyakan, Banyak Warga Tak Tercover Data Bencana

Jatanras Polda Jatim Mengamankan Anggota Majelis Senpi Ilegal

“Ini jelas tindak kekerasan, kami juga sudah memiliki bukti visum dan visual. Kami sudah melaporkan kejadian ini kepada kepolisian karena cara-cara kekerasan itu tidak dibenarkan menurut hukum yang berlaku di Indonesia,” tegas Makruf Syah saat dikonfirmasi Jumat (23/4/2021).


Semestinya negara melalui aparat linmas itu menjamin tapi justru sekarang kok malah menganiaya anak-anak. Cara-cara kekerasan ini melanggar hak asasi manusia apalagi ini pada anak-anak

“Korbannya (Fanhas Al-Rasyid,red) mengalami luka-luka yang cukup parah dan traumatik secara psikis,” tegasnya.

Ia mengakui PWNU melalui LBH NU Jatim sudah berusaha menfasilitasi untuk berunding dengan Linmas Surabay. Namun itu hanya soal keperdataan. Sedangkan menyangkut tindak pidana harus tetap jalan.


Masih di tempat yang sama, bendahara PWNU Jatim H Rasyidi menurutkan bahwa kejadian kekerasan yang menimpa anaknya, Fanhas Al-Rasyid (15) oleh oknum Linmas Surabaya itu murni salah sasaran. Namun oknum tersebut sudah bertindak berlebihan pada anak-anak.

Kejadian tragis yang menimpa anak Bendahara MUI Jatim itu bermula pada Rabu (14/04/2021) dini hari. Saat itu perkiraan waktu menunjukkan 01:32 WIB berdasarkan rekaman CCTV yang ada.
Kala itu Fanhas sedang berkumpul dengan teman sebayanya di kawasan Jalan Gundih IV, Bubutan Surabaya.


Sebelumnya, anak H Rasyidi ini pada pukul 23:30 pamit hendak mengisi waktu dengan duduk-duduk di sebelah rumah ditemani 4 orang teman sebayanya. Dari diskusi yang berkembang, akhirnya mereka memutuskan untuk bermain bola di kawasan Margorukun Gang I Surabaya.

Namun kala itu ternyata lapangan yang ada digunakan sejumlah orang untuk bermain badminton. Namun keinginan untuk bermain bola tidak surut, sehingga mereka berpindah ke kawasan lain yakni di Dupak Grosir.

Malang tak bisa dihindari tanpa dinyana ternyata di jalan raya wilayah tersebut sedang terjadi tawuran. Agar tidak terlibat dalam tawuran tersebut Fanhas bersama rekan lainnya memilih pergi menjauh.


Namun ternyata tidak lama, ada pasukan Linmas yang melakukan penertiban sekaligus pengejaran kepada anak-anak muda yang sedang tawuran tersebut.

Dengan mengendarai motor trill, pasukan Linmas melakukan pengejaran kepada anak-anak yang tengah berbuat onar. Dan tentu saja hal itu memantik para peserta tawuran lari. Dan adegan kejar-kejaran pun terjadi.

“Pasukan Linmas terus melakukan pengejaran hingga kawasan Gang 4. Dan karena terus menguber, sejumlah anak yang sebelumnya tidak terlibat dalam tawuran juga ikut panik, termasuk anak saya,” kata H Rasyidi.


Saat itu ada pengendara motor yang melintas. Supaya selamat dari pengejaran, Fanhas bersama dua temannya naik motor yang tidak dikenal tersebut. Dan ternyata pasukan Linmas juga terus mengejar, hingga jarak semakin mendekat. Dengan menggunakan helm, pasukan Linmas memberhentikan motor yang ditumpangi Fanhas dan memukuli dengan helm.

Celaka saat motor harus melewati gundukan atau polisi tidur, Fanhas tidak dapat menguasai keadaan, sehingga terjatuh. Bahkan sempat terseret kendaraan yang ditumpangi lumayan jauh. Akibat dari kejadian tersebut, terdapat luka yang cukup serius di kedua lutut kakinya.


“Ternyata pihak Linmas memanfaatkan jatuhnya anak saya untuk melakukan tindakan kekerasan. Anak saya diringkus dengan sangat keras. Kala itu anak saya diperlakukan layaknya penjahat. Bahkan kepalanya dibenturkan ke bagian belakang motor tril yang terbuat dari besi. Akibatnya, wajah anak saya lebam dan terluka cukup serius,” tegasnya.

Sejurus kemudian, anak saya dibawa ke Polsek Bubutan Surabaya. Dan karena salah seorang anggota Polsek setempat mengenal Fanhas, maka yang bersangkutan menghubungi H Rasyidi. “Kebetulan dia juga termasuk tim keamanan dan ketertiban di kawasan Gundih. Dan usai waktu Subuh, anak saya diperkenankan pulang,” jelasnya.


Untuk keperluan klarifikasi, pada hari Jumat (16/04/2021) H Rasyidi bersama anak dan keluarga mendatangi kantor Linmas Surabaya. “Kala itu waktu menunjukkan pukul 10:00 WIB dan saya diterima oleh A pukul 11:30 dengan menanyakan kronologi kejadian yang sebenarnya berdasar cerita anak saya. Kala itu saya hanya ingin dipertemukan dengan pelaku tindakan kekerasan,” katanya.

Bapak A akhirnya mendatangkan sejumlah pasukan Linmas yang pada kejadian Rabu dini hari yang sedang bertugas. Dan saat itu ada yang mengaku bahwa dirinya yang melakukan tindakan tersebut. “Yang bersangkutan memeragakan cara memperlakukan anak saya, meskipun apa yang dilakukan dibantah anak saya karena tidak sesuai kejadian,” dalih H Rasyidi.


Usai shalat Jumat, H Rasyidi bersama LBHNU Jatim kembali lagi ke kantor Linmas Surabaya dan menyampaikan bahwa yang diinginkan keluarga adalah tindakan bertanggung jawab dari pelaku. Meskipun saat itu dia tidak akan meminta lebih, hanya yang bersangkutan mengakui tindakan berlebihan yang ujungnya mengakibatkan anak saya terluka cukup serius, kaki dan tangan kiri terkilir.

“Yang membuat saya dan keluarga kecewa, semua petugas ternyata tidak ada yang berkenan mengakui tindakan yang dilakukan. Dan lantaran ketika itu kami tidak memiliki saksi yang ada di tempat kejadian perkara, maka akhirnya pasrah,” ungkapnya

Namun atas sejumlah pertimbangan, pihaknya kemudian mencoba mencari tahu kejadian yang sebenarnya dengan turut mencari saksi yang menyaksikan kejadian. Harapannya, kejadian ini dapat ditangani dengan lebih proporsional, dan kami mendapatkan keadilan.


“Anak saya sudah melakukan visum dan membenarkan bahwa yang bersangkutan mengalami tindakan kekerasan. Pada saat yang sama, sejumlah saksi sudah saya dapatkan untuk membenarkan tindakan sewenang-wenang yang dilakukan oknum pasukan Linmas tersebut,” jelas H Rasyidi.

Lewat kesempatan ini, “saya mempercayakan kepada Tim LPBHNU Jatim untuk memangani masalah dan memproses tindakan tersebut, bukti CCTV dan saksi kejadian sudah saya serahkan. Besar harapan anak saya akan mendapatkan keadilan,” pungkas pria low profile ini. (cz/bel)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed