citizen.co.id

Literasi Publik: Mengimbangi Banalitas Industri Media-Massa

Literasi Publik: Mengimbangi Banalitas Industri Media-Massa

Oleh: Andre Vincent Wenas

citizen.co.id Opini – Prinsip yang perlu diketahui dalam komunikasi massa adalah bahwa media itu sifatnya selalu memediasi. Komunikasinya tidak berlangsung secara langsung. Tapi dimediasi oleh media itu sendiri.

Oleh karena itu setiap partisipan dalam proses komunikasi bermedia ini mesti hati-hati dan kritis. Media itu selalu mem-framing. Melihat dan menyoroti realitas tertentu dari titik pandang dan kerangkanya sendiri. Apakah netral? Tidak, media tidak pernah netral.

Hanya upaya untuk meliput secara berimbanglah yang dapat dilakukan. Supaya perspektif pemberitaan atau penyiarannya menjadi lebih mendekati obyektivitas.

Oleh karena itu jauh-jauh hari seorang ahli media bernama Marshal McLuhan sudah mengingatkan, bahwa ‘the medium is the message!’.

Kalau di Amerika Serikat sana kita bisa langsung membedakan kemana kiblat FoxNews dan kemana pula CNN. Dua partai politik main-stream di AS (Republican dan Democrat) punya corong medianya masing-masing.

Tentu saja media semacam itu punya kerangka referensi (frame of reference) dalam menyiarkan pemberitaan atau mendesain content acaranya.

Di Indonesia ada beberapa stasiun televisi swasta. Masing-masing dengan kepentingan politik dan kepentingan bisnisnya sendiri-sendiri. Lantaran kita juga tahu bahwa dibelakang stasiun televisi swasta itu ada pengusaha bisnis yang juga beraspirasi untuk jadi penguasa politik.

Jadi wajar saja kalau pola pemberitaan, peliputan dan rancangan acaranya senantiasa pekat dengan misi bisnis dan aspirasi politik pemilik media (tv, cetak, radio, berita online, dll).

Media sebagai industri tentu harus mengikuti kaidah-kaidah industrialisasi, kalkulasi bisnis. Profit and loss (laporan laba-rugi) dan value creation (balance-sheet, laporan neraca) dan pengendalian aliran kas (cash-flow management) menjadi disiplin mendasar.


Sedangkan di sisi lainnya kita sadar betul bahwa media-massa memainkan peran krusial dalam membangun narasi yang sehat bagi bangsa. Ada aspek tanggung jawab sosial disini.

Oleh karena media swasta disadari bakal memusatkan energinya pertama dan utamanya demi memenuhi kaidah industri (bisnis), maka pertanyaannya, siapa yang bisa fokus pada aspek social responsibility ini?

Siapa yang bisa menitikberatkan aspek penyiaran atau liputan (artinya membangun narasi) yang sungguh baik. Baik bagi misi mencerdaskan bangsa, sekaligus menyatukan bangsa yang plural ini.

Di sinilah peran PBS (public broadcasting system) yang di Indonesia kita mengenal LPP (lembaga penyiaran publik) TVRI dan RRI (Radio Republik Indonesia). Ada juga LKBN Antara (lembaga kantor berita nasional).

Misalnya untuk TVRI. Kenapa TVRI mesti ada? Penyiaran sebagai kegiatan komunikasi massa mempunyai fungsi sebagai media informasi, pendidikan, hiburan yang sehat, kontrol dan perekat sosial.

Landasan perundang-undangannya pun sudah ada. UU No.32 thn 2002 tentang penyiaran. Disebutkan disitu, dalam menjalankan fungsinya LPP TVRI mempunyai fungsi ekonomi dan kebudayaan.

Penyiaran diarahkan untuk : a. menjunjung tinggi pelaksanaan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945; b. menjaga dan meningkatkan moralitas dan nilai-nilai agama serta jati diri bangsa;

c. meningkatkan kualitas sumber daya manusia; d. menjaga dan mempererat persatuan dan kesatuan bangsa; e. meningkatkan kesadaran ketaatan hukum dan disiplin nasional;

f. menyalurkan pendapat umum serta mendorong peran aktif masyarakat dalam pembangunan nasional dan daerah serta melestarikan lingkungan hidup;


g. mencegah monopoli kepemilikan dan mendukung persaingan yang sehat di bidang penyiaran; h. mendorong peningkatan kemampuan perekonomian rakyat, mewujudkan pemerataan, dan memperkuat daya saing bangsa dalam era globalisasi;

i. memberikan informasi yang benar, seimbang, dan bertanggung jawab; j. memajukan kebudayaan nasional.

Sebagai LPP (lembaga penyiaran publik) ia mesti ikut membangun narasi besar bangsa Indonesia. Ikut merancang agenda-setting seperti apa yang ingin ditanam dibenak masyarakat.

Melawan dan mengimbangi banalitas narasi lain yang cenderung destruktif atau hanya sekedar hedonis yang ujungnya merusak juga. Dibutuhkan narasi tandingan yang bisa memicu dan memacu kreativitas, cara berpikir sehat dan memotivasi produktivitas.

Acuan dan landasan hukum untuk lembaga penyiaran publik sudah ada. Tinggal disiplin manajemen dan kerja kreatif dalam koridor undang-undang.

Singkatnya, tugas lembaga penyiaran publik adalah literasi publik, untuk mengimbangi banalitas industri media-massa.

Jangan lupa, “Banality is a symptom of non-communication. Men hide behind their cliches,” begitu ujar Eugene Ionescu.(cz/avw)

Andre Vincent Wenas, Sekjen Kawal Indonesia – Komunitas Anak Bangsa

1,181 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

One thought on “Literasi Publik: Mengimbangi Banalitas Industri Media-Massa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *