oleh

Kita di Ruang Publik yang Kumuh

Kita di Ruang Publik yang Kumuh

Oleh: Andre Vincent Wenas

citizen.co.id Ruang Publik – Kotor, jorok banyak preman di ruang publik kita. Seperti memasuki slum-area di kawasan Bronx sana, atau Pasar Tanah Abang pasca Ahok sekarang.

Ruang publik yang dimaksud bukan sekedar ‘public place’ dalam batasan arsitektural atau fisik. Tapi ruang publik sebagai “public space’ yang mencakup ruang wacana, non-fisik. Ini lebih luas maknanya, dan memang jadi lebih licin definisinya.

Tak gampang membatasi pengertian ruang publik, bisa-bisa malah tergelincir kesana kemari. Supaya singkat, kita pinjam saja rumusan yang digagas tiga orang cendekia, Ralf Dahrendorf, Gladstone dan Romo B. Herry-Priyono.

Ketiga definisi ini saya kutip dari paper Dr. B.Herry-Priyono,SJ, “Menyelamatkan Ruang Publik”, yang dimuat dalam buku, “Ruang Publik: Melacak ‘Partisipasi Demokratis’ dari Polis sampai Cyberspace” yang di edit oleh Dr. F.Budi Hardiman, terbitan Pustaka Filsafat Kanisius, tahun 2010. Begini:

Pertama, “Dunia kehidupan paling privat seperti cinta dan persahabatan, serta dunia mekanisme pasar yang mencakup kepentingan pribadi dan insentif bukanlah satu-satunya dimensi hidup manusia. Dalam ruang publik orang bertindak bukan hanya lantaran digerakkan oleh kebaikan hati, bukan pula sekedar sebagai reaksi terhadap berbagai insentif (finansial atau bukan), melainkan karena orang memiliki etos melayani kepentingan seluruh komunitas.” (Ralf Dahrendorf)

Kedua, “Ruang publik adalah ranah hati-nurani publik, yang dalam berbagai bentuknya berisi kewajiban mereka yang kaya, terhadap yang miskin, kewajiban yang kuat terhadap yang lemah, kewajiban mereka yang tahu terhadap mereka yang tidak tahu.” (Gladstone).

Ketiga, “Ruang publik adalah ranah maupun aset, barang, jasa, ruang atau gugus infrastruktur lain yang kinerjanya menjadi penyangga watak sosial suatu masyarakat, sehingga masyarakat tersebut berevolusi dari sekedar ‘kerumunan’ (crowd) menjadi ‘komunitas’ (community). Ruang publik bukan hak prerogratif pemerintah, dan keberadaannya pertama-tama tidak untuk diperjual-belikan melalui mekanisme pasar.” (B.Herry-Priyono)

Jadi ruang publik primer terjadi lantaran digerakkan oleh kebaikan hati oleh mereka yang memiliki etos melayani kepentingan seluruh komunitas. Sebagai ranah hati nurani yang harusnya menyangga watak sosial yang baik.

Lalu mengapa ruang publik bisa kotor dan kumuh dengan hoaks dan dipadati berbagai pengumunan humas yang mengalihkan perhatian publik pada urgensi persoalan yang lebih substansial? Soal transparansi politik (anggaran, rekrutmen kader, suksesi, dll) misalnya.

Tentu ada pihak yang berkepentingan untuk terus memenuhi ruang publik itu dengan wacana versinya sendiri. Demi citra diri, demi pengelabuan, atau demi motif-motif licik lainnya.

Dan ini berbahaya. Tidak bisa dibiarkan, harus dilawan. Dilawan dengan narasi tandingan yang cerdas, yang membuka tabir kepalsuan, narasi yang membongkar kebohongan.

Narasi yang meluaskan horison pandang publik, agar tercerahkan. Agar tersadarkan. Jadi semacam anti-biotik yang melumpuhkan virus jahat yang disebarkan komprador kleptokrat-plutokrat-koncokrat.

Mereka yang terpanggil untuk mengisi narasi tandingan ini adalah para cerdik-cendekia, para wartawan, para warga polis yang tercerahkan. Selama tidak terkooptasi oleh kekuasaan yang hitam (kuasa gelap).

Lawan terus, penuhi ruang-ruang publik (ruang wacana publik) dimana pun, lewat media apa pun (berbasis cetak, elektronik, internet) dengan narasi baik, jujur dan mencerahkan.

Kolam comberan kalau terus menerus diisi dengan air bersih, akan bening juga nantinya. Mungkin baru generasi berikut yang akan menikmatinya. Tidak jadi soal. Panggilan kita adalah untuk terus menabur kebaikan.

Sabar, tekun dan jangan lelah mencintai bangsa ini. Terus Kawal Indonesia. Selamatkan ruang publik kita, bersihkan dari kekumuhan. (cz/avw)

Lux mentis lux orbis. Light of the mind, light of the world

Andre Vincent Wenas, Sekjen Kawal Indonesia – Komunitas Anak Bangsa

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed