citizen.co.id

Kepanikan Moral dan Para Buzzer Politik

Kepanikan Moral dan Para Buzzer Politik

Oleh: Andre Vincent Wenas

citizen.co.id Opini – Moral panic adalah suatu kondisi atau episode dimana orang atau sekelompok orang muncul dan dianggap jadi ancaman terhadap tatanan nilai dan kepentingan sosial.

Beberapa kasus: Ahok (pilkada ayat-mayat), Arswendo Atmowiloto (survey tabloid Monitor), Meliana (volume toa di Tanjung Balai) dan yang baru-baru ini Romesko Purba (panitia pembangunan gereja di Karimun). Mereka semua korban moral-panic.

Belakangan ini media massa dan media sosial telah jadi saluran penting dalam hal mendiseminasi kemarahan yang seolah bermoral (moral indignation).

Tema paling murah yang bisa diangkat adalah yang berkaitan dengan agama. Agama apa pun. Jargon jualannya seperti bela agamalah, bela pemimpin agamalah, bela ayatlah, dan yang sejenisnya.

Kerena memang dalam kondisi kemasyarakatan seperti sekarang ini, jualan isu agama adalah yang paling murah (murahan) dan paling gampang. Tak perlu otak-atik otak. Cukup digelitik emosinya, dan fanatisme buta pun segera menyeruduk.

Situasi fatalistik ditengah masyarakat memang membuat mereka gampang untuk dicucuk hidungnya dengan janji surga (jualan surga). Jadi penurut seperti kerbau digiring ke pembantaian. Lugu dan bodoh.

Sementara itu para buzzer politik terus memborbardir dunia maya dengan pesan-pesan tertentu yang menguntungkan pihak sponsornya. Kalau perlu sampai terjadi moral panic.


Amplifikasi suatu isu, apalagi yang gampang menyulut emosi menjadi sasaran empuk para penjahat politik.

Ada riset dari dua ilmuwan Universitas Oxford di Inggris, Samantha Bradshaw dan Philip N. Howard yang menemukan bahwa para politisi dan partai politik di Indonesia membayar buzzer untuk kerja manipulasi opini publik.

Seperti dikutip oleh media online Kumparan dalam lamannya ([https://kumparan.com/kumparansains/riset-oxford-politikus-indonesia-bayar-buzzer-untuk-manipulasi-publik-1rzWKzl4kyv?utm_source=kumMobile&fbclid=IwAR0NX_YIxCCkYOx8BWk7SETRQMKMyZnTlQdi4in2jawp_6sSEYqEXr8KAgo](https://kumparan.com/kumparansains/riset-oxford-politikus-indonesia-bayar-buzzer-untuk-manipulasi-publik-1rzWKzl4kyv?utm_source=kumMobile&fbclid=IwAR0NX_YIxCCkYOx8BWk7SETRQMKMyZnTlQdi4in2jawp_6sSEYqEXr8KAgo)) tentang “The Global Disinformation Order, 2019 Global Inventory of Organised Social Media Manipulation”:


“Di dalam laporan itu dibeberkan bahwa buzzer di 70 negara, termasuk di Indonesia, digunakan antara lain untuk menyebarkan propaganda, menyerang lawan politik, menjauhkan atau mengalihkan pembicaraan atau kritik dari masalah penting, menekan oposisi atau seseorang secara personal, atau menyebarkan informasi untuk memecah-belah publik.

Adapun akun-akun media sosial yang digunakan oleh para buzzer ini terdiri dari akun manusia, bot, cyborg, serta akun hasil pencurian atau peretasan. Selain memanfaatkan media sosial seperti Twitter, Facebook, dan Instagram, pada buzzer juga memanfaatkan aplikasi pesan seperti WhatsApp untuk menyebarkan propaganda demi memanipulasi sikap publik.

Kesimpulannya, “penggunaan propaganda komputasi untuk membentuk sikap publik lewat media sosial sudah menjadi hal yang umum,” bukan hanya dilakukan oleh segelintir orang.”

Padahal kita tahu juga peran media dalam menstrukturkan kesadaran publik sangatlah penting. Dengan memberitakan suatu masalah berulang-ulang, media bisa menciptakan reaksi sosial yang melawan. Media menggugah kesadaran publik, bahkan sampai ke aktivitas polisional.


Fakta yang berlebihan bisa menakutkan publik, dan membuat tinjauan judisial yang juga ekstra. Untuk kemudian mengambil langkah putusan yang keras luar biasa. Ingat kasus-kasus Ahok, Arswendo, Meliana, dan Romesko tadi.

Spiral pemberitaan yang diamplifikasi para buzzer politik bisa semakin meluas, dan situasi ketidak wajaran (abnormalitas) bakal terjadi. Artinya yang di luar kewajaran, di luar kenormalan, karena hanya sedikit yang berhubungan dengan situasi riil (kenyataan).

Dan situasi ini tidak baik, bahkan berbahaya bagi kohesivitas sosial.

Terhadap para manipulator politik ini, jangan diam. Karena, “The ultimate tragedy is not the oppression and cruelty by the bad people but the silence over that by the good people.” – Martin Luther King Jr.(cz/avw)

Andre Vincent Wenas, Sekjen Kawal Indonesia – Komunitas Anak Bangsa

 1,241 total views,  1 views today

One thought on “Kepanikan Moral dan Para Buzzer Politik

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *