citizen.co.id

Kenapa Formula-E Harus di Monas, atau Kenapa Harus Ada ?

Kenapa Formula-E Harus di Monas? …atau Kenapa Harus Ada?

Oleh: Andre Vincent Wenas

citizen.co.id Opini – Akhirnya Bu Megawati Soekarnoputri angkat bicara soal rencana gelaran Formula-E di kawasan Monas.

Beliau bertanya, “”Nah, Gubernur DKI ini tahu apa tidak, kenapa sih kalau mau bikin Formula E itu, kenapa sih harus di situ (di Monas)? Kenapa sih nggak di tempat lain? Kan begitu, peraturan itu ya peraturan, kalian juga mesti tahu jangan sampai melanggar peraturan.” Ujarnya di kantor PDIP, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu, 19 Februari 2020 kemarin.

Presiden RI ke-5 Megawati Soekarnoputri juga mempertanyakan alasan Formula E digelar di kawasan cagar budaya. “Monas itu di dalam keputusan peraturan itu adalah cagar budaya, garis bawahi, tapi jangan pula saya dibentur-benturkan (dengan) Pak Anies, bahwa Monas itu adalah sudah pasti peraturannya merupakan cagar budaya, artinya tidak boleh dipergunakan untuk apapun juga, rumah saya itu masuk dalam cagar budaya DKI, saya kalau mau betulin (renovasi), mesti izin, karena ada hal-hal yang tidak ada dalam arsitektur rumah yang lain,” kata Megawati. (Sumber: https://news.detik.com/berita/d-4905955/megawati-kenapa-formula-e-harus-di-monas-pak-anies?utm_source=copy_url&utm_campaign=detikcomsocmed&utm_medium=btn&utm_content=news&fbclid=IwAR17ND_ljdyrA3zA7BsNQpzMF-ckVPY9zF0KvwcgRhqqXYDf_suRC67D3zM)


Bagus, kita menyambut dengan senang. Bahwa rencana gelaran yang tidak bermanfaat bagi rakyat ini mendapat perhatian dan kritik dari pimpinan partai besar pemenang pemilu.

Rencana gelaran balap mobil listrik Formula-E ini sudah direncanakan anggarannya pada tahun lalu dan disetujui DRPD DKI Jakarta periode 2014-2019). Pemda DKI pun sudah membayar panjer (uang muka tanda jadi) kepada pemegang lisensi Formula-E, jumlahnya lebih dari 300 milyar rupiah!

Rencana gelaran Formula-E di Monas ini mulai menuai kontroversi dan polemik publik sejak dikritik tajam oleh Fraksi PSI di DPRD-DKI Jakarta akhir tahun 2019 lalu.

Setelah itu banyak kejanggalan yang muncul ke permukaan. Mulai dari tragedi Mahoni yang hilang lalu ditengarai sudah jadi mebel, sampai yang baru-baru ini soal pengaspalan batu alam di Monas dan isu manipulasi rekomendasi dari Tim Ahli Cagar Budaya (TACB).

Sampai-sampai Kadis-Sekda mesti pasang badan, demi menolong atasannya yang kerap blunder bicara atau salah ketik. Mungkin lantaran ia lebih dikenal sebagai seorang ahli tata-kata, bukan ahli-ketik.

Pendeknya, isu Formula-E yang sejatinya non-manfaat-publik ini sudah menghabiskan waktu, tenaga dan anggaran dengan percuma. Publik pun sudah direcoki dengan isu yang remeh yang ujungnya dicurigai cuma soal bancakan ABPD dan perampokan aset negara.

Sebetulnya, anggaran yang satu trilyun lebih untuk gelaran Formula-E ini bisa dimanfaatkan untuk hal-hal yang jauh lebih esensial.

Anthony Winza Prabowo, anggota DPRD-DKI Jakarta, sampai berbusa-busa berupaya menyadarkan bahwa ada banyak sekolah reyot di ibu kota ini yang perlu perhatian. Juga banyak rakyat jelata yang kebelet buang air tapi tidak punya jamban. Dan segudang agenda sosial lain yang jauh lebih menuntut perhatian ketimbang main balapan mobil listrik. (Simak: Anthony Winza: FORMULA E ADALAH BUKTI BAHWA ANGGARAN DKI BUKAN UNTUK RAKYAT KECIL di: https://www.youtube.com/watch?v=DXBGslwqoLc)

Namun sayang, teriakan dan celotehan para ‘new kids on the block’ dari Fraksi PSI ini baru sampai pada kehebohan di media (media-massa maupun media-sosial). Tidak tembus ke ranah keputusan politik di dewan perwakilan rakyat maupun di balai kota.

Saat ini ada suara seorang pejuang perempuan dari partai pemenang pemilu, Ibu Megawati Soekarnoputri, yang mengritisi rencana gelaran Formula-E di kawasan Monas. Bagus sekali!


Dan akan jauh lebih bagus kalau Bu Megawati juga lebih keras lagi menyuarakan PEMBATALAN gelaran Formula-E dan mengalihkan anggarannya untuk banyak proyek kerakyatan di DKI-Jakarta. Bahkan bisa jadi preseden nasional tentang pemanfaatan duit rakyat. Sebuah pembelajaran yang sangat baik.

Kalau Bu Megawati sebagai pimpinan tertinggi partai yang bersuara, tentu para petugas partai di parlemen maupun eksekutif akan mendengar, dan melaksanakannya dengan sebaik-baiknya. Terima kasih Bu.(cs/avw)

Jayalah PDI-Perjuangan dan Merdeka!

Andre Vincent Wenas, Sekjen Kawal Indonesia – Komunitas Anak Bangsa

 1,850 total views,  1 views today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *