citizen.co.id

Kedahsyatan Nabi : Non Muslim Pun Dapat Syafaatnya Diakhirat (Perspektif Ulama Iran)

KEDAHSYATAN NABI: NON MUSLIM PUN DAPAT SYAFAATNYA DI AKHIRAT
(Perspektif Ulama Iran)

Oleh: Ahmad Muntaha AM

Tidak percaya non muslim pun mendapatkan syafaat Nabi Muhammad Saw di akhirat?

Kalau kisah yang masyhur, tentu keringanan siksa neraka yang diperoleh Abu Lahab setiap hari Senin karena berbahagia atas kelahiran Nabi Muhammad Saw, yang kemudian menggerakkan dirinya untuk memerdekakan Tsuwaibah budak perempuannya, seperti diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam al-Jami’ as-Sahih dan dijelaskan oleh para pensyarahnya. (Fath al-Bari, IX/145).

Sementara menurut penjelasan al-Muhaqqiq Jalaluddin ad-Dawwani (830-918 H/1427-1512 M), ulama multidisipliner bermazhab Syafi’i dari ulama lain, saking besarnya, syafaat Nabi Muhammad Saw dapat memberi keringanan non muslim di hari kiamat kelak. Yaitu, dengan dipercepat penentuan nasibnya atau fashl al-qadha’ sehingga teringankan dari kepayahan dan kengerian hari kiamat.

Dalam hal ini, qadhi negeri Persia, Iran sekarang, seperti dikutip Abu Sa’id al-Khadimi (1113-1176 H/1701-1763 M) dalam Bariqah Mahmudiyyah (I/229), menegaskan:

هو عليه الصلاة والسلام مشفع في جميع الجن والانس إلا أن شفاعته للكفار للتعجيل فصل القضاء فيخفف عنهم اهوال يوم القيامة، وللمؤمنين للعفو ورفع الدرجات. فشفاعته عامة لقوله تعالى: وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ. (الانبياء: ١٠٧).

“Nabi Muhammad Saw adalah nabi yang dapat memberi syafaat bagi seluruh jin dan manusia. Hanya saja, syafaatnya bagi non muslim untuk mempercepat pemutusan nasib di akhirat, sehingga mereka diringankan dari kengerian hari kiamat; sementara syafaatnya bagi orang-orang beriman untuk pengampunan dosa dan menaikkan derajatnya. Maka syafaat Nabi Muhammad Saw bersifat umum sesuai firman Allah Ta’ala: “Dan tidaklah Kami mengutusmu Muhammad kecuali sebagai rahmat bagi alam semesta.” (QS. Al-Anbiya’: 107).

Nah, rahmat dan kasih sayang Nabi Muhammad Saw tidak tanggung-tanggung. Dari dunia sampai akhirat. Untuk semua manusia, yang mengimaninya maupun yang mengingkarinya. Lalu, sebesar apa kasih sayang kita terhadap manusia. Apakah hanya kepada orang seiman saja atau juga kepada orang yang berlainan keimanan?

Sumber:
1. Ahmad bin Ali bin Hajar al-‘Asqallani, Fath al-Bari Syarh Shahih al-Bukhari, (Bairut: Dar al-Ma’rifah, tth.), IX/145.
2. Abu Sa’id al-Khadimi, Bariqah Mahmudiyyah fi Syarh Thariqah Muhammadiyyah wa Syari’ah Nabawiyah fi Sirah Ahmadiyyah, (ttp.: Syirkat Shahafiyyah, 1318 H), I/229.

 81 total views,  1 views today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *