citizen.co.id

Kaum Radikal, Jangan Campur Adukan Antara Agama dan Negara Agama

Kaum Radikal, Jangan Campur Adukan Antara Agama dan Negara Agama

Oleh : Ahmad Zazuli Ketua Gerakan Pemuda Nusantara Jawa Timur

citizen.co.id Ruang Publik – Ketua Dewan Pimpinan Wilayah Jawa Timur (DPW) Gerakan Pemuda Nusantara (GPN) Ahmad Zazuli mengingatkan semua elemen bangsa Indonesia untuk menjadi juru damai pada masyarakat agar mempelajari agama secara utuh dan mendalam kepada para ahlinya.

Banyak anak muda yang tadinya toleran menjadi intoleran dan radikal karena belajar dengan guru yang salah. Intoleransi adalah pintu gerbang radikal dan terorisme.

Terutama banyak yang  memahami Pancasila dengan cara yang salah, menganggap sebagai taghut/ berhala dan demokrasi juga dianggapnya haram, padahal mereka hanya bisa tumbuh subur di negara demokrasi.

Hal itu disampaikan oleh Ahmad Zazuli kepada awak media, Agama itu memang sangat penting dalam kehidupan umat manusia, selain itu agama juga berperan untuk menenangkan jiwa dan raga. Dengan agama yg kita yakini hidup akan lebih baik dan indah. Dengan agama kita akan lebih bijak menyikapi sesuatu.


Menurut Pria yang akrab disapa Cak djaz, kini ada pihak yang sengaja mencampur adukan persoalan agama dan negara. Jadi seolah olah bila terjadi suatu masalah dalam negara, bencana/ musibah dll merupakan dampak dari negara yang tidak menggunakan konsep hukum agama.

Ada kelompok yang menganggap bahwa orang Islam, harus tinggal di negara Islam dan menggunakan Islam. Kalau orang Islam menolak negara Islam/ Khilafah Islam dianggap taghut/ kafir.”tambah cak djaz


Ujung ujungnya menyalahkan negara dan Pancasila karena dinilai produk manusia yang melawan hukum agama.” tindas cak djaz yang juga sebagai ketua bidang kebudayaan dan pariwisata DPD KNPI Jatim.

Bagi cak djaz, beragama adalah sarana untuk manusia untuk berdoa dan berkomunikasi dengan Tuhan lewat caranya masing masing. Tidak perlu meributkan cara ibadah, apalagi menyalahkan ibadah orang lain.

Manusia memerlukan petunjuk dalam agama untuk kebahagiaan hidupnya di dunia dan di akherat. Dengan agama, manusia juga bisa mendapatkan nilai-nilai moral yang universal dan hal-hal yang tidak dapat dicapai dengan akalnya semata.

Ken menjelaskan bahwa antara agama dan negara terdapat hubungan yang saling membutuhkan, tapi jangan dicampur adukan menjadi satu negara agama misal negara Islam.

Kalau masing masing agama mengendaki menjadi negara agama, maka nanti ada negara Kristen, negara hindu, negara budha, konghuchu dan lain sebagainya. Akan semakin kacau Jelas cak djaz.

Agama harus dijalankan dengan baik oleh pemeluknya. Urusan agama mengatur hubungan manusia dengan tuhan sedangkan urusan negara bicara tentang aturan manusia dengan manusia dalam sebuah pemerintahan.

Ahmad Zazuli menekankan pentingnya belajar agama dengan benar, dengan memilih kiai atau guru yang jelas kemampuan ilmunya dan memiliki akhlak yang baik. Tidak menghujat dan mengeluarkan kata-kata kotor caci maki terhadap pemerintah dan pemimpin, tidak menyalahkan amaliah orang lain sekaligus menganggap paham amaliahnyalah yang paling benar sendiri.


Bahkan sampai dalam tahap mengkafirkan orang lain bila tidak bergabung dalam kelompoknya.

“Kalau ada orang beragama mengajarkan radikalisme, misalnya ahlak yang buruk, dengan hujatan, caci makian wajib kita kritisi dan jangan di ikuti, Karena teladan umat Islam nabi Muhammad diturunkan ke muka bumi ini untuk menyempurnakan akhlak,” Ujar cak djaz.


Masyarakat juga harus mengenali modus perekrutan gerakan radikal yang mengakibatkan perpecahan, dan masyarakat harus berani menolak dengan tegas bila mulai diajak ikut kajian yang dilakukan dengan sembunyi-sembunyi. Kajian-kajian eksklusif ini sering menyasar kalangan muda terutama para pelajar dan mahasiswa.

Tidak mengenal pintar atau tidak, sebab banyak pelajar dan mahasiswa yang memiliki otak cerdas namun rapuh dasar ilmu agama, dengan gampang direkrut kelompok radikal. Jelas cak djaz.

“Saat ini kita sudah terancam dan terkepung dengan paham radikal, mereka sangat masif dan kita sudah gampang diadu domba antar suku, antar agama, bahkan yang se agama saja kita sering ribut mempermasalahkan perdoalan kecil.

Saatnya kita bangkit dan tumbuhkan nasionalisme. Kita bentengi keluarga dari ancaman-ancaman di sekitar kita,” ajaknya.

Ketika belajar tentang masalah agama yang tidak dimengerti, ia mengimbau masyarakat agar berdialog dan bertanya kepada sumber yang benar-benar terpercaya.


Masyarakat juga harus senantiasa kritis ketika menemukan pernyataan yang tendensius dalam hal agama.

“Dalam hal agama harus hati-hati dan kritis agar tidak mudah tersugesti oleh paham radikal. Karena inilah pintu awal perekrutan,”terang ketua DPW GPN Jatim.

Agama dan kitab suci tidak salah, tapi tidak semua orang yang mengaku beragama dan membawa kitab suci itu benar, kini banyak yang mengaku beragama tapi faktanya mereka membuat kerusakan dan mereka tidak menyadarinya karena mereka taqlid buta pada kelompok dan pimpinannya.”pungkas Ahmad zazuli.(cz/jos/bel)


 228 total views,  3 views today

2 thoughts on “Kaum Radikal, Jangan Campur Adukan Antara Agama dan Negara Agama

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *