Kasus Campak di Jakarta Terkendali, Pemprov Pastikan Tidak Ada Lonjakan Signifikan

Sep 12, 2025 - 23:19
Kasus Campak di Jakarta Terkendali, Pemprov Pastikan Tidak Ada Lonjakan Signifikan
Ilustrasi campak pada anak (Detikhealth)

Jakarta – Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo memastikan kasus campak di ibu kota tidak mengalami peningkatan signifikan seperti yang terjadi di sejumlah provinsi lain.

Menurutnya, meski terdapat kenaikan kasus di wilayah Cilincing dan Cengkareng, jumlahnya relatif sama dengan tahun sebelumnya.

“Jakarta saat ini hal yang berkaitan dengan campak sebenarnya tidak ada sesuatu peningkatan seperti yang terjadi di provinsi-provinsi lain,” ujar Pramono di Balai Kota DKI Jakarta, Jumat (12/9/2025).

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) DKI Jakarta, Ani Ruspitawati, mencatat hingga awal September 2025 terdapat 218 kasus campak dan 63 kasus rubella di Jakarta. Meski begitu, ia menegaskan tidak ada laporan kematian akibat penyakit tersebut.

“Kasus campak di DKI Jakarta itu sempat naik. Ada 218 kasus pada awal September, dan juga ada 63 kasus rubella yang sudah terkonfirmasi. Alhamdulillah, tidak ada kematian yang dilaporkan sampai dengan saat ini,” kata Ani.

Salah satu wilayah dengan kasus cukup tinggi adalah Kelurahan Kapuk, Kecamatan Cengkareng, yang mencatat 38 kasus positif campak.

Sebagai langkah penanggulangan, Dinkes DKI bersama pemerintah wilayah telah melaksanakan Outbreak Response Immunization (ORI) atau imunisasi massal campak di daerah terdampak.

“Jadi, kami hitung ada sekian anak yang harus dilakukan imunisasi untuk mencegah agar kasus campaknya tidak bisa meluas. Kami isolasi kasusnya supaya tidak meluas,” jelas Ani.

Hingga saat ini, terdapat sekitar 9.000 anak yang menjadi sasaran imunisasi campak, dengan cakupan mencapai 77,22 persen. Program ini masih terus berjalan untuk memastikan anak-anak memiliki kekebalan tubuh optimal terhadap campak dan rubella.

Ani menekankan pentingnya imunisasi lengkap pada anak, yaitu diberikan tiga kali: usia 9 bulan, 18 bulan, dan saat kelas 1 SD.

“Kalau di lingkungan kita ada bayi, balita yang berusia 9 dan 18 bulan, maka kita ajak, kita pastikan, kita dorong untuk mendapatkan imunisasi campak atau MR. Imunisasinya harus lengkap karena ini salah satu pencegahan yang sangat efektif,” tegasnya.