citizen.co.id

Islam, Indonesia, NU: Tantangan dan Jawabannya

Islam, Indonesia, NU: Tantangan dan Jawabannya

Oleh: Ahmad Muntaha AM (Sekretaris LBM NU Jatim)

1. Dulu sampai sekarang, tantangan kita banyak. Utamanya masalah keislaman, kebangsaan dan kemanusiaan;

2. Masalah keislaman khususnya keaswajaan kita jawab dengan Khazanah Aswaja, yang sejauh ini telah terbit 10 kali atau 30.000 eksemplar. Tentu dengan buku-buku lain karya Kiai-kiai NU se-Nusantara demi menjaga Nahdliyin dan kaum muslimin dari berbagai propaganda akidah dan amaliah yang terus-menerus bermunculan.

3. Selain itu, problem kebangsaan, macam propaganda khilafah, rongrongan terhadap Pancasila dan NKRI juga terus menyeruak bahkan dengan dalih-dalih agama. Dalam konteks ini kita jawab dengan buku Fikih Kebangsaan Jilid I dan jilid 2 yang sudah terbit. Juga dengan Kritik Ideologi Radikal, Nasioalis Religius, kitab ad-Difa’ ‘anil Wathan, dan semisalnya. Juga buku Fikih Kebangsaan Jilid III yang sedang proses cetak, dan Fikih Kebangsaan Jilid IV yang sedang proses. Semua itu dilakukan demi menjaga warisan luhur Kiai-kiai kita, yaitu negeri Indonesia dan bumi Nusantara agar tetap damai, baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur, bagi keberlangsungan umat Islam dan manusia Indonesia lainnya dalam menjalankan aktivitas kehidupan, di tengah propaganda dan tantangan luar dalam yang selalu saja datang.

4. Nah, semua upaya itu tetap dilakukan dalam koridor Islam Ahlussunah wal Jama’ah yang kita warisi dari dulu hingga sekarang. Diproses melalui bahtsul masail HIMASAL (Himpunan Alumni Santri Lirboyo), bahtsul masail PWNU Jawa Timur, bahtsul masail Munas dan Muktamar NU, serta forum-forum lain di berbagai komunitas pesantren NU seperti FMPP (Forum Musyawarah Pondok Pesantren)
Se Jawa Madura.

5. Di sana ada banyak sekali Kiai-kiai senior, dan yang menggembirakan adalah Gus-Gus Muda dari berbagai pesantren yang terlibat pro aktif dalam proses itu, semisal Gus Muhas bin KH. Sa’id Abdurrahim Sarang Rembang, Gus Fauraq Tsabat bin KH. Abdulloh Zaini Besuk Pasuruan, dan Gus Ayyubi bin KH Rofi’i Ya’qub Lirboyo, yang sangat cekatan dan siap meneruskan amanah diniyyah, wathaniyah dan insaniyah di masa depan.

6. Dan, dari buku-buku itu, alhamdulilah beberapa penulisnya diamanahi Kementerian Agama pusat untuk merevisi pelajaran-pelajaran agama yang sudah tersusupi pemahaman radikal yang berbahaya bagi keutuhan kita sebagai bangsa.

7. Tantangan terakhir dari sisi kemanusiaan. Seringnya terjadi intimidasi, persekusi, caci-maki dan ujaran kebencian yang dilakukan oknum-oknum muslim terhadap non muslim juga menjadi PR kita bersama. Menurut hemat saya:

العلاقة الاجتماعية بين المسلمين وغيرهم في الفقه الاسلامي

The Relationship between Muslim and Other, atau Relasi Muslim dan Non Muslim Perspektif NU juga sangat mendesak untuk dirumuskan secara komprehensif. Dalam hal ini, Insyaallah akan dibahas pada Bahtsul Masail Syuriyyah PWNU Jawa Timur, yang kemudian semoga dapat dibahas di Munas atau Muktamar NU tahun 2020 ini. Tiada lain tiada bukan, hal ini mendesak dilakukan demi menjaga kerukunan dan harmonitas manusia Indonesia dengan berbagai latar belakang suku dan agamanya.

8. Tidakkah kita ingat dawuh KH. Maimun Zubair yang telah disepakati derajat luhur keilmuannya:
“Masa sekarang tidak ada khilafah. Tidak ada negara Islam. Semuanya negara Nasional … Pada masa sekarang kalau bangsanya tidak dijunjung maka akan runtuh. Meski demikian, kebesaran Indonesia harus diiringi dan diwarnai dengan ruh-ruh keislaman.”

9. Terakhir, upaya dan ikhtiar seperti itu juga tidak sepi tantangan. Bullying, nyinyiran, tuduhan liberal, tidak mau menjaga akidah umat dan cemooh ‘sadis’ lainnya siap menyapa. Hasbunallah wa ni’mal wakil, wa ‘alallahi tawakkalna.(cz/jos)

 75 total views,  1 views today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *