Harga Matcha Melambung, Konsumen Harus Rogoh Kocek Lebih Dalam Akibat Cuaca Ekstrem di Jepang

Jul 7, 2025 - 15:12
Harga Matcha Melambung, Konsumen Harus Rogoh Kocek Lebih Dalam Akibat Cuaca Ekstrem di Jepang
Ilustrasi matcha (ist)

Jakarta - Pecinta matcha di seluruh dunia, termasuk Indonesia, harus bersiap membayar lebih mahal untuk menikmati minuman hijau favorit mereka. Pasalnya, harga bahan baku matcha melonjak tajam akibat cuaca ekstrem yang melanda Jepang, produsen utama teh hijau ini.

Asosiasi Teh Jepang Global melaporkan harga daun teh hijau bernama tencha, bahan baku utama matcha telah mencapai rekor tertinggi. 

Dalam lelang yang berlangsung di Kyoto, harga tencha menembus 8.235 yen per kilogram atau naik sekitar 170 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Angka ini melampaui rekor sebelumnya sebesar 4.862 yen yang terjadi pada 2016.

Lonjakan harga ini dipicu oleh menurunnya pasokan akibat musim panas yang ekstrem di Jepang. Suhu panas berkepanjangan merusak semak-semak teh dan membuat hasil panen anjlok drastis. Salah satu wilayah terdampak paling parah adalah Kyoto, yang dikenal sebagai pusat produksi teh hijau Jepang dan menyumbang seperempat dari total produksi tencha nasional.

Masahiro Yoshida, seorang petani teh generasi keenam dari Kyoto, mengungkapkan bahwa panen tahun ini hanya mencapai 1,5 ton. Jumlah itu turun drastis dari hasil panen normal yang biasanya mencapai dua ton.

“Musim panas tahun lalu sangat panas sehingga merusak semak-semak, jadi kami tidak dapat memetik banyak daun teh,” ujar Yoshida kepada Reuters, Senin (7/7/2025).

Meningkatnya harga tak lepas dari melonjaknya permintaan global terhadap matcha dalam beberapa tahun terakhir. Gaya hidup sehat yang diadopsi generasi milenial dan Gen Z menjadi salah satu pendorong utama popularitas matcha. Minuman ini dikenal mengandung antioksidan tinggi dan kadar kafein yang lebih tinggi dibanding teh hijau biasa. Tak heran jika matcha kini banyak ditemukan dalam bentuk latte, smoothie, hingga berbagai hidangan penutup di kafe-kafe trendi dunia.

Yuki Ishii, pendiri merek teh Tealife, mengatakan bahwa permintaan pelanggan terhadap matcha meningkat sepuluh kali lipat dalam satu tahun terakhir. “Saya pada dasarnya selalu kehabisan stok,” ujarnya.

Menurut Asosiasi Produksi Teh Jepang, produksi tencha Jepang pada 2024 mencapai 5.336 ton, naik hampir 2,7 kali lipat dari sepuluh tahun sebelumnya. Kondisi ini mendorong lebih banyak petani beralih menanam tencha untuk memenuhi permintaan yang terus meningkat.

Dari sisi ekspor, data Kementerian Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan Jepang menunjukkan nilai ekspor teh hijau Jepang, termasuk matcha, naik 25 persen menjadi 36,4 miliar yen atau sekitar Rp2,5 triliun pada 2024. Kenaikan ini sebagian besar didorong oleh popularitas matcha sebagai produk teh bubuk. Dari sisi volume, ekspor naik 16 persen.

Dengan harga yang kian meroket, para pecinta matcha harus bersiap membayar lebih mahal untuk secangkir kenikmatan hijau ini—setidaknya hingga kondisi iklim kembali bersahabat bagi petani teh Jepang.