oleh

Gerakan Santri Milenial Mencatat Banyak Program Start Up Bersifat Ceremonial

citizen.co.id Surabaya – Gerakan Santri Milenial mencatat di Jawa Timur pada tahun 2019, banyak Start Up yang berguguran, karena program yang dibuat pemerintah Provinsi Jatim masih bersifat seremonial dan belum mampu memberikan pendampingan secara menyeluruh. Seharusnya Indonesia dengan bonus demografi yang dipunyai pada  tahun 2045 sudah banyak generasi milenial yang menjadi pengusaha.

“Sebenarnya kalau potensi yang ada itu banyak, terkait dengan program yang ada di pemerintahan yang sekedar seperti kemarin ada gerakan yang Milenial Job Center, One Pesantren One Product, kita melihat hanya sekedar pameran-pameran yang sudah ada produknya. Padahal yang menginginkan sebenarnya di lingkungan kami sendiri banyak yang harus didampingi untuk bisa menghasilkan produk baru, bukan mengenalkan produk yang ada,” jelas Ketua Gerakan Santri Milenial, Ahmad Athoillah di Satu Atap Surabaya. Minggu malam (29/12/2019).

Ahmad menambahkan, sehrusnya pemerintah daerah bisa mengajak generasi milenial untuk berkolaborasi antara yang sudah punya produk dengan yang belum berproduksi.

“Yang sudah punya produk baik itu desa ataupun di pondok pesantren yang punya produk, itu diajak dengan uluran tangan. Terus teman-teman di komunitas yang ada yang sudah keterkaitan anak muda itu dirangkul untuk bisa bareng-bareng untuk bagi pondok yang belum punya produk untuk menjual produk, desa yang menjual produk akhirnay didampingi untuk punya produk.Itu keinginan yang ada, kendalanya seperti itu hanya sekedar rutinitas,”  urai Ahmad yang juga anggota komisi B DPRD Jawa Timur ini.

Gerakan Santri Milenial berharap pada pemerintah daerah, pada tahun 2020 mampu mendorong dan mengapresiai komunitas milenial baik dari segi budaya, pendidikan, perekonomian usaha agar bonus demografi yang dipunyai Jawa Timur bisa dioptimalkan keberadaannya.

“Jadi tidak hanya sekedar menghabiskan program hanya woh kita predikat milenial, ya itu menghabiskan program tidak seperti itu hanya bagaimana mendampingi beneran. Karena tantangannya ini di komunitas yang ada,” tambah Pria yang akrab disapa Mas Athok tersebut.

Baca Juga :

Anggota DPRD Jatim : Tekan Pemerintah Siapkan Langkah Kongkrit Hadapi Bonus Demografi

Program Millenial Job Center, lanjut Athoillah juga kurang sesuai sebab dalam setahun terakhir memang banyak startup yang tumbuh tapi yang bisa bertahan tak lebih dari 5 persen.

“Jangan sampai anak-anak muda hanya berorientasi menjadi reseller produk luar negeri. Tapi bagaimana menumbuhkan produk minimal bisa menguasai pasar dalam negeri yang selama ini dibanjiri produk asing,” tegasnya.

Ia juga kurang sepakat jika produk UMKM dipaksa bersaing dengan produk luar negeri untuk orientasi ekspor, padahal pasar dalam negeri belum dimaksimalkan.

“Yang perlu diperkuat adalah produk dalam negeri, seperti UMKM menjadi raja di negeri sendiri karena Indonesia adalah pasar yang besar sehingga berbagai negara berebut menguasai pasar kita,” dalih Athoillah.(bi1)

“Kunci mewujudkan Indonesia Emas 2045 adalah perkuat SDM, perkuat budaya dan seni menjadi jatidiri bangsa dan orang-orang yang memiliki ilmu mau berbagi ke anak-anak muda,” jelasnya.(cz/jos)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed