oleh

Gerakan Santri Milenial Dorong Pemprov Jatim Peduli Kaum Milenial

citizen.co.id Surabaya – Gerakan Santri Milenial menyebut kriteria pemimpin milenial yang layak dipilih di Pilkada 2020 kedepan. Pemimpin milenial, bukan hanya pemimpin muda. Namun, pemimpin yang peduli terhadap anak muda.

Gerakan Santri milenial meminta anak muda memilih, dan memilih pemimpin yang amanah. Selain itu, visi dan misi pembangunan yang peduli anak muda,” kata Ketua Santri Milenial, Ahmad Athoillah.

Menurutnya, pemberdayaan anak muda bisa diwujudkan dalam berbagai bidang. Di antaranya, pemberdayaan ekonomi, budaya, dan karakter.

Oleh karena itu, pemimpin milenial bukan didasarkan pada usia, namun karena programnya. “Pemimpin milenial, tidak harus anak muda,” katanya.

Pemimpin milenial itu figur yang bisa kolaborasi. Terutama, kolaborasi antara anak muda dengan orang tua. Era saat ini, eranya kolaborasi,” katanya.

Selain itu, berdasarkan evaluasi pemilu 2019, anak muda juga belum berpartisipasi aktif. Gaduhnya pemilu 2019 di media sosial ternyata tak membuat partisipasi anak muda meningkat.

Sebaliknya, anak muda justru semakin skeptis dengan politik akibat maraknya isu negatif di medsos. “Secara umum, mereka sebenarnya masih belum banyak dalam ikut proses pemilu. Masih apatis,” kata Athoillah.

Sebanernya, ini karena ketidaktahuan. Mereka cenderung melihat di media sosial bahwa politik soal mengolok-ngolok, hoax, dan bullying,” tandas politisi PKB ini.

Di sini lah pentingnya pendidikan politik bagi kalangan milenial.

“Sekolah politik penting. Anak muda harus dipahamkan bahwa mau tidak mau keputusan menyangkut publik harus melalui politik,” kata Anggota DPRD Jatim ini.

Pendidikan politik menjadi tugas bersama antara komunitas, partai politik, dan pemerintah.

“Tugas partai politik adalah sekolah politik. Komunitas juga bisa memberikan pendidikan serupa dan ini sudah banyak contohnya,” katanya.

Kemudian, Pemerintah bisa menggandeng para komunitas. Santri Milenial akan berusaha mengenalkan politik dengan gaya milenial dan pentingnya anak muda dalam pemilihan umum. Politik kedepan, tidak bisa hanya menggunakan jasa orang tua, namun harus mengolaborasikan dengan anak muda,” pungkasnya.

Untuk diketahui, jumlah pemilih milenial di Jatim cukup potensial. Pada pemilu 2019, Komisi Pemilihan Umum (KPU) Jatim mengungkapkan bahwa lebih dari seperempat dari total pemilih di Jawa Timur berkategori pemilih milenial.

Mengutip data usia pemilih, jumlah pemilih milenial mencapai 8,2 juta jiwa atau 27 persen dari total pemilih Jatim.

Berdasarkan data hingga awal tahun ini, kalangan pemilih di bawah usia 20 tahun atau baru kali pertama memilih mencapai 2,28 juta pemilih. Kemudian, untuk rentang usia 21 hingga 30 tahun mencapai 6,06 juta pemilih.

Apabila dijumlah, rentang usia di bawah 30 tahun mencapai 8,3 juta jiwa. Besarnya jumlah usia tersebut mencapai seperempat dari jumlah total pemilih yang mencapai 30,91 juta pemilih (Daftar Pemilih Tetap Hasil Perbaikan/DPHTP-I).(cz/jos)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed