Fatwa Lengkap MUI Panduan Ibadah Ramadhan dan Syawal

Citizen.co.id Jakarta – Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan Fatwa Nomor 24 Tahun 2021 tentang Pedoman Penyelenggaraan Ibadah di Bulan Ramadhan dan Syawal 1442 Hijriah.

Ketua Fatwa MUI Asrorun Niam Sholeh mengatakan, fatwa ini berisi pedoman kegiatan keagamaan yang harus berkontribusi dalam memutus mata rantai peredaran Covid-19.


“Apa artinya? Ramadhan dan juga Syawal nanti, momentum keagamaan harus berkontribusi dalam memutus rantai Covid-19 dengan upaya eksternal dan internal, ”kata Asrorun.

Selain itu, menurut Asrorun, fatwa ini juga mengatur optimalisasi instrumen keagamaan seperti zakat yang ditujukan untuk mengatasi Covid-19.


Dan inilah fatwa lengkapnya:

PEDOMAN DAN KETENTUAN HUKUM

A. Implementasi Protokol Kesehatan dalam Ibadah Ramadhan

1. Setiap muslim harus berusaha semaksimal mungkin untuk menjaga kesehatan dan menjauhi apapun yang dapat menyebabkan terpapar penyakit, karena itu bagian dari menjaga tujuan utama agama (al-Dharuriyat al-Khams).

2. Umat Islam selama bulan Ramadhan hendaknya mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan memperbanyak ibadah, tadarus al-Quran, menyelenggarakan dan menghadiri taklim serta mengaji, taubat, istighfar, dzikir, mengaji qunut nazilah, memperbanyak berkah, sedekah, dan senantiasa berdoa kepada Allah SWT akan diberikan perlindungan dan keselamatan dari musibah dan kesusahan (daf’u al-bala ‘), khususnya dari wabah Covid-19.

3. Kegiatan bulan Ramadhan dan Syawal dapat diisi dengan ceramah dan kajian agama untuk meningkatkan rasa hormat kepada Allah SWT dan menambah wawasan keagamaan dari sumber-sumber agama yang berwibawa.

4. Penyelenggaraan ibadah selama bulan Ramadhan, baik ibadah mahdlah maupun ghairu mahdlah harus menerapkan tata tertib kesehatan.


Sebuah. Penerapan jarak fisik (menjaga jarak) saat shalat berjamaah dengan merentangkan barisan hukum diperbolehkan, shalatnya sah dan tidak kehilangan prioritas jamaah karena syaratnya sebagai niat syar’iyyah.

b. menggunakan masker yang menutupi mulut dan hidung bila shalatnya sah dan shalatnya sah.

5. Setiap muslim wajib ikut serta dalam upaya memutus mata rantai peredaran Covid-19, termasuk vaksinasi Covid-19 guna mewujudkan imunitas kelompok (herd immunity).

6. Vaksinasi saat puasa tidak membatalkan puasa, oleh karena itu umat Islam yang berpuasa dapat divaksinasi.

7. Tes usap, baik melalui hidung maupun mulut untuk deteksi Covid-19 selama puasa tidak membatalkan puasa, oleh karena itu umat Islam yang sedang berpuasa dapat melakukan tes usap, serta tes cepat dengan sampel darah dan penggunaan Genose dengan sampel napas.


B. Pelaksanaan Ibadah Puasa

1. Setiap mukallaf wajib menjalankan puasa Ramadhan kecuali ada alasan syar’i.

2. Seorang Muslim yang sedang sakit terkena Covid-19 dan khawatir kesehatannya terganggu jika berpuasa, maka tidak boleh berpuasa dan mengqadhanya di lain hari setelah sembuh.

3. Umat Islam yang tidak dapat menjalankan puasa karena sakit yang tidak ada harapan kesembuhan atau akibat renta sehingga puasanya tidak kuat, maka ia terbebas dari kewajiban puasa dan tidak wajib menqadlanya, tetapi diwajibkan untuk membayar fidyah, yakni memberi makan fakir miskin sebanyak 1 lumpur atau setara dengan 6 ons beras untuk setiap sisa hari puasa.

4. Ibu hamil dan menyusui dilarang berpuasa dengan ketentuan sebagai berikut:


Sebuah. Jika dia khawatir dengan kondisi kesehatannya, maka dia harus mengqadha.

b. Jika anda mengkhawatirkan kondisi kesehatan diri dan bayi anda, maka wajib mengqadha.

c. Jika khawatir dengan kondisi kesehatan bayi maka wajib qadha dan membayar fidyah.

5. Dalam kasus seorang muslim yang sakit dan tidak berpuasa Ramadhan meninggal sebelum ada kesempatan berbuka, maka ia tidak berdosa.

6. Buka bersama di rumah, di masjid, di kantor, atau di tempat lain dapat dilakukan dengan tetap menjaga protokol kesehatan.


C.Pelaksanaan Sholat Fardhu, Tarawih, Witr, Tadarus, Qiyamullail, dan I’tikaf

1. Pada dasarnya pelaksanaan shalat fardlu, tarawih, witr, tadarus, qiyamullail, dan i’tikaf di bulan Ramadhan mengacu pada Fatwa Majelis Ulama Indonesia Nomor 14 Tahun 2020 tentang Penyelenggaraan Ibadah Dalam Situasi Wabah covid19.

2. Sejalan dengan kebijakan pemerintah tentang relaksasi kegiatan ibadah, umat Islam didorong untuk menyiarkan bulan Ramadhan dengan berbagai kegiatan ibadah, termasuk ibadah yang melibatkan banyak orang (berjamaah) seperti shalat lima waktu, sholat tarawih, sholat witir. , tadarus bersama, dan qiyamullail dan majlis taklim dan belajar.

3. Pelaksanaan sholat tarawih berjamaah di mushalla, masjid, balai perkantoran dan tempat umum lainnya harus menjaga tata tertib kesehatan, seperti memakai masker, menjaga jarak, dan cuci tangan.

4. Saat melaksanakan shalat wajib dan witir, dianjurkan mengaji Qunut Nazilah selama bulan Ramadhan agar wabah Covid-19 segera diangkat oleh Allah SWT dan terhindar dari segala bencana.

5. I’tikaf dapat dilakukan baik secara individu maupun bersama-sama di masjid dengan tetap menjaga tata tertib kesehatan.

6. Umat Islam yang terpapar Covid-19 atau sedang dalam kondisi sakit yang rentan terpapar Covid-19 wajib melaksanakan ibadah Ramadhan di rumah.


D. Pelaksanaan Zakat Fitrah, Zakat Mal, Fidyah, dan Shadaqah

1. Setiap Muslim yang terkena kewajiban, dapat membayar Zakat Fitrah dan membagikannya sejak awal Ramadhan tanpa harus menunggu malam Idul Fitri.

2. Zakat mal dapat dibayarkan dan disalurkan lebih cepat (ta’jil al-zakat) tanpa harus menunggu setahun penuh (hawalan al-haul), ketika sudah mencapai nishab.

3. Fidyah bisa dibayarkan dan disalurkan di hari tidak puasa, tidak harus menunggu di akhir Ramadhan.

4. Kegiatan pembayaran, penghimpunan, pengelolaan dan penyaluran zakat fitrah, zakat mal, fidyah dan shadaqah harus melaksanakan tata tertib kesehatan, menghindari keramaian massa, tidak menimbulkan antrian panjang yang merugikan, dan mengutamakan penyaluran bagi mustahiq terdampak Covid-19, baik secara langsung maupun tidak langsung.

5. Pembayaran zakat fitrah, zakat maal, fidyah, dan shadaqah dianjurkan melalui BAZNAS / LAZNAS yang terpercaya sehingga penyalurannya terkoordinasi, merata, dan dapat mengoptimalkan manfaat bagi mustahiq.


E. Pelaksanaan Takbir, Sholat Idul Fitri dan Silaturrahim Halal Bihalal

1.Setiap muslim dalam kondisi apapun sunnah untuk memeriahkan malam Idul Fitri dengan takbir, tahmid, tahlil berseru pada kebesaran Allah SWT, mulai dari terbenamnya matahari di akhir Ramadhan hingga pelaksanaan Idul Fitri doa al -Fitr.

2. Setiap muslim sunnah mengaji takbir dimanapun dia berada, di rumah, di masjid, di pasar, di kendaraan, di jalan, di rumah sakit, di kantor, di tempat umum juga melalui televisi, radio, media sosial , dan media digital lainnya sebagai pesan keagamaan.

3. Pertunjukan takbir bisa dilakukan sendiri atau bersama-sama, dengan jahr (suara keras) atau sirr (rencana).

4. Umat Islam diimbau untuk mengaji takbir, tahmid, dan tahlil pada malam Idul Fitri sebagai tanda syukur dan doa agar wabah Covid-19 diangkat oleh Allah SWT.

5. Pemerintah perlu memfasilitasi penyelenggaraan takbir akbar yang berbasis di masjid atau tempat terbuka lainnya dengan protokol kesehatan dan disiarkan melalui media digital agar dapat diikuti oleh seluruh umat Islam.

6. Sholat Idul Fitri 1 Syawal 1442 H dapat dilakukan berjamaah di masjid, mushalla, lapangan, atau tempat lain dengan tetap menerapkan tata tertib kesehatan dan sesuai dengan kebijakan Pemerintah.

7. Pedoman Pelaksanaan Sholat Idul Fitri mengacu pada Fatwa MUI Nomor 28 Tahun 2020 tentang Pedoman Takbir Kaifiat dan Sholat Idul Fitri Saat Pandemi Covid-19.

8. Penerapan halal bi halal silaturrahim dapat dilakukan melalui media virtual atau langsung seperti mengunjungi kerabat dan tetangga, serta halal bihalal di tempat kerja dengan tetap berpegang pada tata tertib kesehatan dan mengikuti kebijakan Pemerintah.


REKOMENDASI

1. Pemerintah perlu memfasilitasi penyelenggaraan ibadah dan Ramadhan syiar dengan menyediakan sarana prasarana untuk penyelenggaraan protokol kesehatan.

2. Umat Islam harus mendukung dan menaati kebijakan pemerintah dalam upaya mengatasi dan mengatasi serta mengendalikan penyebaran COVID-19.

3. Pemerintah dan seluruh elemen masyarakat harus senantiasa mengupayakan penanggulangan Covid-19 dan menjadikan Ramadhan 1442 H sebagai momentum untuk memperkuat upaya eksternal dan internal sebagai kebijakan nasional yang seimbang sebagai wujud negara dan pemerintahan dengan Tuhan Yang Maha Esa.


Jakarta, 12 April 2021

Komisi Fatwa MUI

Ketua Prof. Dr. H. Hasanudin AF

Sekretaris Miftahul Huda, Lc

Jajaran direktur

Ketua Umum KH. Miftahul Akhyar

Sekretaris Jenderal Dr. H. Amirsyah Tambunan

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*