citizen.co.id

Dialektika Sedang Berlangsung: Sabar, Eling Lan Waspada

Dialektika Sedang Berlangsung: Sabar, Eling Lan Waspada

Oleh: Andre Vincent Wenas

citizen.co.id Opini – Kalau para kita hanya sibuk setiap kali merevisi pemahaman tentang realitas perubahan yang terjadi di dunia maka itu tidak berdampak apa-apa. Yang penting adalah merubah dunia itu sendiri.

Itu tadi tidak salah juga. Hanya persoalannya adalah merubah dunia jadi apa? Kalau pemahaman tentang dunia itu sendiri tidak adekuat, bagaimana gambaran tentang tujuan (visi) tentang dunia yang seharusnya (yang ideal) bisa dikonstruksi dalam pikiran (rencana).

Jadi perlu ada semacam rekonsiliasi, dimana keduanya perlu. Yang ideal dan yang material harus bertemu di titik koordinat yang namanya keputusan.

Pengelolaan (manajemen) perubahan adalah selalu tentang mendekatkan kesenjangan (gap) antara kondisi sekarang dengan kondisi ideal (visi).

Maka dalam tema besar manajemen perubahan berkumpullah berbagai disiplin keilmuan, mulai dari psikologi, ekonomi, politik, hukum, sejarah, sosiologi, antropologi, komunikasi, dan lainnya.

Apalagi jika kita bicara soal perubahan menuju bangsa yang lebih baik. Energi yang dibutuhkan untuk mengelola perubahan itu bakal membutuhkan kerjasama berbagai elemen sosial. Asas sinergitas sambil dengan cerdik dan taktis memusatkan kekuatan di titik-ungkit (leverage point) yang paling strategis dan berdampak signifikan. Prinsip Paretto (prioritas) namanya.

Seni mengambil keputusan (the art of decision making) dari pemimpin jadi imperatif. Biar bagaimana pun massa senantiasa menantikan kehadiran pemimpin untuk menggerakan mereka. Menginspirasi dan memotivasi gerak dari kerumunan menjadi terorganisir sedemikian rupa sehingga berbagai vektor yang ada bisa mengarah ke suatu tujuan bersama.

Gravitasi terhadap setiap gerak perubahan senantiasa adalah kepentingan-kepentingan sektarian. Dengan segala latar belakangnya, kepentingan sektarian (egoisme individu atau kelompok-kelompok tertentu) akan berusaha melakukan retaliasi. Baik terang-terangan sebagai oposisi, maupun dalam bentuk gerakan klandestin sebagai musuh dalam selimut (silent retaliation). Mereka bisa dibilang adalah para pendukung palsu.

Disinilah sikap ketegasan pemimpin untuk berani tidak populer ditagih oleh sejarah. Untuk menyelamatkan gerak menajemen perubahan itu sendiri walau keputusan yang diambilnya bakal tidak populer di kalangan pendukung palsunya.


Untuk jangka pendek akan mengakibatkan naiknya tensi gejolak organisasi, namun dalam jangka panjang menyelamatkan. Bahkan kerap lewat situasi konflik yang terkelola dengan baik, akan tersaring siapa kawan sejati dan siapa kutu busuk yang selama ini bersembunyi di bawah kehangatan kasur dan selimut.

Mungkin dengan kerangka pemahaman seperti itu kita bisa membaca beberapa fenomena sosial-politik yang baru-baru ini jadi topik hangat, atau bahkan topik panas di negeri ini.

Kasus rencana pemulangan ratusan bekas kombatan ISIS, kasus illegal logging di Monas, kasus mark-up anggaran di APBD (DKI maupun di banyak daerah lain) dimana tidak ada niatan Pemda untuk transparan dalam pengelolaannya, dan parlemen di daerah pun bungkam seribu bahasa.

Belum lagi berbagai kasus korupsi berjamaah di berbagai daerah, kasus hilangnya (disembunyikannya) buronan KPK dan kepolisian, yang menyusul terkuaknya kasus kongkalikong (kader) partai politik dengan KPU. Mulai terbongkarnya secara masif kasus mega skandal korupsi di banyak BUMN yang ternyata berkelindan juga dengan petinggi-petinggi negara di waktu lalu.


Keputusan untuk membongkar itu semua sudah ditetapkan.Walaupun itu bakal melibatkan orang dekat istana katanya. Sejak itu instrumen negara (KPK, Kepolisian, Kejaksaan) laksana mesin-mesin pencari (search-engine) mulai melacak para kleptomania yang selama ini berpesta pora mabuk-mabukan menghisap darah rakyat.

Tentu saja ada banyak riak gejolak. Tinggal kita bedakan mana gejolak yang bernada dasar panik lantaran mulai tercium bau busuknya. Dan mana riak gejolak akibat tersenggol kritik dan analisa tajam. Karena kritik dan analisa tajam justru berusaha membantu percepatan kerja mesin pencari maling tadi. Seperti minum obat, pahit namun menyembuhkan.

Kalau mesin-pencari (searh engine) itu berfungsi benar, ia akan menampilkan hasilnya tanpa tebang pilih. Objektif, tak pandang bulu.

Dengan memasukkan kata kunci yang tepat, misalnya: ‘kleptokrasi’, maka semua yang tersangkut akan keluar namanya. Tidak peduli nama itu berasal dari partai besar atau kecil, baru atau lama, orang besar atau orang tinggi, punya beking atau justru bekingnya itu sendiri.

Proses besar pembersihan sedang berjalan. Seperti karat di permukaan besi yang sedang diampelas, digosok berulang-ulang. Berisik dan mungkin ada yang sakit. Tapi hasilnya akan jadi mengkilap.

Dialektika sedang berlangsung. Thesis, antithesis dan synthesis silih berganti. Sabar, eling lan waspada.(cz/jos/avw)

Andre Vincent Wenas, Sekjen Kawal Indonesia – Komunitas Anak Bangsa

 1,652 total views,  1 views today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *