Cucun Ahmad Syamsurizal Minta Maaf Soal Pernyataan Ahli Gizi di Program MBG
Jakarta - Wakil Ketua DPR RI, Cucun Ahmad Syamsurizal, memberikan klarifikasi terkait ucapannya yang sempat menimbulkan perdebatan publik mengenai peran ahli gizi dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Pernyataan itu sebelumnya disampaikan dalam sebuah diskusi bersama Badan Gizi Nasional (BGN) di Bandung pada Minggu (16/11/2025).
Dalam penjelasan resmi yang disampaikan pada Selasa (18/11/2025), Cucun menyampaikan permintaan maaf atas timbulnya polemik di masyarakat.
"Dalam kesempatan ini, saya ingin menyampaikan permohonan maaf agar semua menjadi trang dan jelas," ujarnya.
Cucun menegaskan bahwa keberadaan ahli gizi justru sangat penting dalam penerapan program MBG. Menurutnya, tenaga ahli gizi memiliki peran strategis dalam memastikan program tersebut dapat memberikan fondasi kuat bagi lahirnya generasi Indonesia yang lebih sehat, cerdas, dan berdaya saing.
Ia menekankan bahwa MBG bukan hanya sekadar bantuan sosial, tetapi merupakan bagian dari upaya besar membangun sumber daya manusia unggul melalui edukasi dan pemenuhan kebutuhan gizi sejak usia dini.
Cucun juga mengungkapkan telah menggelar pertemuan dengan Persatuan Ahli Gizi Indonesia (Persagi) serta BGN untuk menindaklanjuti persoalan ini.
"Kami menyepakati penguatan program MBG lewat kerja sama BGN dan perstauan ahli gizi Indonesia," tuturnya.
Ia menambahkan bahwa lulusan sarjana gizi dan pendidikan vokasi gizi akan dikoordinasikan oleh Persagi bersama BGN demi memastikan kompetensi tenaga yang terlibat dalam program tersebut.
"Kami sepakat untuk terus melakukan perbaikan agar MBG menjadi program manfaat untuk masa depan anak anak Indoensia," pungkasnya.
Latar Belakang Polemik
Polemik bermula ketika seorang peserta Forum Konsolidasi SPPG se-Kabupaten Bandung menyoroti sulitnya BGN merekrut ahli gizi untuk ditempatkan di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Peserta tersebut mengusulkan agar istilah “ahli gizi” tidak dipakai apabila tenaga yang direkrut tidak memiliki pendidikan di bidang tersebut.
Ia menyampaikan, "Jika memang pada akhirnya tetap ingin merekrut dari non-gizi, tolong tidak menggunakan embel-embel ahli gizi lagi,”
seraya menyarankan penggunaan istilah seperti pengawas produksi, kualitas, atau tenaga QA/QC.
Peserta itu juga merekomendasikan agar BGN menggandeng Persagi karena kebutuhan gizi penerima manfaat semestinya ditangani oleh tenaga yang kompeten.
“Nanti mungkin ke depannya, BGN bisa berkolaborasi dengan organisasi profesi Persagi,” ujarnya.
Selain Persagi, ia juga menyarankan kerja sama dengan Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan Indonesia (HAKLI).
Namun, sebelum peserta tersebut menyelesaikan penjelasan, Cucun sempat menanggapi dengan nada keberatan dan memotong pembicaraan.
Politikus PKB itu berkata, "saya enggak suka anak muda arogan kayak gini. Mentang-mentang kalian sekarang dibutuhkan negara, kalian bicara undang-undang. Pembuat kebijakan itu saya.”