Bangkit Berkat Keripik Sari Kedelai, Pengusaha Muda Berharap Tembus Marketplace

citizen.co.id Kediri  Tidak meratapi kegagalan akibat terimbas pandemi Covid-19, menjadi cara pelaku UMKM Kabupaten Kediri, Jangki Dausat, meraih sukses kembali. Ia membuat keripik sari kedelai, saat ini harga kedelai sedang digoyang. Kini ia hanya berharap Pemkab Kediri membantu pemasaran usahanya.

Bagi pelaku UMKM, Jangki tentu mencoba agar usaha barunya di bidang makanan kecil seperti keripik sari kedelai ini tetap survive, bahkan berkembang lagi.

Warga Desa Keraton, Kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri ini pun mengakui pernah mendengar tentang marketplace, cara pemasaran atau metode berjualan kompetifif. Hanya, ia tidak tahu caranya. Karena saat ini ia berkutat pada pesanan keripik sari kedelai yang semakin meningkat.

Jangki berharap bahwa pemda memberikan pelatihan untuk UMKM seperti dirinya agar usahanya menjadi besar. Seperti cara memasarkan dan bersaing dengan produk luar yang sudah besar.

“Sebelumnya saya memang mendapat pelatihan cara mendaftarkan akun ke marketplace. Tetapi masih belum diajari bagaimana memasarkan dengan baik di marketplace. Kami orang di desa tentu berharap ada pelatihan semacam itu,” ujar Jangki, saat dilansir dari surya, Minggu (31/1/2021).

Baca juga :

Serahkan SK CPNS, Mensesneg: Kita Pengatur Lalu Lintas Kementerian dengan Presiden/Wapres

Kominfo Buka Pendaftaran Program Beasiswa S2 Dalam dan Luar Negeri Tahun 2021

Padahal keberadaan para ‘pejuang ekonomi’ dari kalangan UMKM seperti Jangki seharusnya bisa membuat Pemkab Kediri. Pria tiga anak ini awalnya jatuh akibat pandemi ketika penjualan frozen food yang dilakukannya macet gara-gara PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) pada pertengahan 2020 lalu.

Jangki terpaksa menutup usahanya dan sempat gamang karena beberapa bulan tidak bekerja tetap. Namun Jangki tidak menyerah, hingga akhirnya mencoba merintis usaha baru dengan berjualan keripik sari kedelai.

Jangki menuturkan awal pembuatan keripik sari kedelai itu dari istrinya. “Sekitar Agustus 2020 saya memulainya. Saat itu istri menawarkan keripik kedelai dan rasanya enak, gurih. Kemudian saya melihat ini peluang yang bagus untuk dikembangkan,” Jangki mengisahkan.

Kemudian Jangki mengajukan izin ke Pemkab Kediri untuk membuatkan hak paten Keripik Sari Kedelai yang sudah beberapa lama diproduksinya. Saat itu Dinas Koperasi menilai bahwa produk itu harus bagus dari packing.

“Akhirnya saya ditawari mengikuti pameran oleh dinas. Dan Alhamdulilah produk baru ini diminati banyak orang yang penasaran deengan Keripik Sari Kedelai,” tuturnya.

Popularitas memang berawal dari rasa, itu kunci dalam usaha kuliner. Penjualan Keripik Sari Kedelai milik Jangki juga terbantu rasa yang renyah, dan kini sudah menembus pasar Surabaya.

Namun untuk sementara penjualan terbanyak masih di sekitar area Kediri Raya. Sedangkan untuk harga satuannya, Jangki mematok Rp 9.000 per kemasan 100 gram. “Alhamdulillah saat ini omzet yang didapatkan bisa mencapai jutaan. Melalui usaha ini saya bisa berdayakan ibu-Ibu di sekitar rumah,” sambung Jangki.

Saat ini usaha yang dijalankan oleh Jangki belum bisa maksimal karena keterbatasan alat produksi. Ia berharap bantuan dari pemda untuk lebih mengembangkan lagi usahanya.

“Jumlah pesanan setiap hari semakin banyak. Namun kami masih terkendala keterbatasan alat produksi. Jadi kalau ada bantuan dari pemda tentu ini akan mendorong usaha kami lebih besar,” tuturnya.

Jangki juga mendorong para pelaku usaha agar tidak mudah putus asa dalam situasi pandemi Covid-19 yang sulit ini. “Setiap kesulitan pasti ada jalan keluar, meskipun saya sempat bangkrut. Terpenting kita mau berusaha dan memanfaatkan peluang itu,” pungkasnya.(cz/bel)

 

 2,459 total views,  3 views today

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*