oleh

Anggota DPRD Jatim : Tekan Pemerintah Siapkan Langkah Kongkrit Hadapi Bonus Demografi

citizen.co.id Surabaya – Anggota DPRD Jawa Timur, Ahmad Athoillah, menyebut Indonesia sedang menghadapi bonus demografi. Ia pun mendesak Pemprov Jatim serius membantu meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM) khususnya bagi milenial.

“Pemprov Jatim harus serius menghadapi bonus demogrgafi ini, dengan mempersiapkan generasi muda untuk kemajuan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” kata Mas Athok, sapaan akrabnya, di sela acara Refleksi Akhir Tahun Gerakan Santri Milenial, di Surabaya, Minggu (29/12/2019).

Fenomena demografi ini, lanjut Mas Athok, dapat menjadi peluang keberhasilan bagi Indonesia khsusunya Pemprov Jatim jika mampu memanfaatkannya. Namun, juga bisa menjadi bumerang kegagalan jika tidak mempersiapkan diri sejak dini.

Sebab, adanya peningkatan usia produktif berarti juga membutuhkan jumlah lapangan pekerjaan yang besar, dan modalnya tentu juga tidak sedikit. Pemerintah bisa memberikan pelatihan, pengawalan hingga milenial mandiri.

“Bukan hanya menggelar pelatihan, selesai itu kemudian dibiarkan tidak dikawal. Ini yang terjadi saat ini, pemerintah cendrung hanya memfasilitasi dengan pelatihan, setelah itu mereka dibiarkan gak jelas,” katanya.

Contohnya, Pemprov Jatim beberapa waktu lalu menggelar pameran di Grand City dan pameran One Pesantren One Produk (OPOP) di  Jatim Expo. Di mana ada banyak produk dari sejumlah pondok pesantren dipamerkan, dan pesantren itu sudah lama mandiri, bahkan sebelum ada program OPOP.

Baca Juga :

Kandidat Ketum PGI DKI Jakarta, Joyada Janji Cari Bibit-Bibit Pegolf

“Mestinya, Pemprov memamerkan produk pesantren yang belum berkembang, bukan yanh sudah lama berkembang lalu dipamerkan. Harusnya mereka dikawal mulai dari memberi pelatihan, hingga pemasaran produk dan lainnya,” katanya.

Menurut Mas Athok, santri adalah kalangan muda produktif yang sedang tirakat dalam menggali keilmuan. Mereka dipersiapkan untuk mencari bekal sebanyak-banyaknya, guna menghadapi segala problematika dimasyarakat.

Melihat realita tersebut, sudah sepatutnya pendidikan pesantren harus mendapat perhatian khusus dalam pendidikan, bukan melulu mengandalkan pengetahuan formalistik (teori), melainkan juga mengedepankan aspek spiritual, skill dan mental santri.

“Santri ini adalah aset penting bangsa ini dalam mengawal laju modernitas. Sehingga, pemerintah harus lebih serius lagi mendorong meningkatkan kualitas milenial khususnya santri, agar skill dan pengetahuan umum menjadi alat untuk menunjang perjuangannya kelak,” kata politisi asal Jombang itu.(cz/jos)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed