citizen.co.id

Ada Buaya di Keruhnya Sengkarut TVRI

Ada Buaya di Keruhnya Sengkarut TVRI

Oleh: Andre Vincent Wenas

citizen.co.id Ruang Publik – Astaga, sampai buaya dibawa-bawa dalam silang sengkarut TVRI menyusul pemecatan Dirutnya berapa waktu lalu.

Kabarnya, buaya-buaya Indonesia memang sejatinya tidak kalah hebat dibanding buaya-buaya dari belahan negeri mana pun.

Kalau tidak percaya, tanya saja kepada sekitar setengah penduduk negeri ini!

Tapi kali ini perkara buaya yang sedang kita bicarakan bukan soal buaya yang satu itu.

Ini soal penting, soal content program tayangan di TVRI. Ini soal buaya sang binatang. Bukan metafora.

Pasalnya, Direktur Program dan Berita TVRI Apni Jaya Putra merasa perlu merespon pernyataan Dewan Pengawas (Dewas) yang mempersoalkan siaran Discovery Channel di TVRI.


Saat rapat bersama DPR-RI yang baru lalu, Dewas memperkarakan siaran TVRI yang banyak menayangkan buaya Afrika ketimbang buaya lokal.

Buaya lokal pun dibela Apni. Maksudnya soal penayangannya.


Menurutnya tayangan buaya lokal di program TVRI jumlahnya lebih banyak ketimbang Discovery Channel. (Sumber: https://bisnis.tempo.co/read/1300295/jawab-dewas-direksi-tvri-banyak-tayangkan-buaya-indonesia)

Apni menuturkan, ada banyak kok program di TVRI yang menampilkan buaya asli Indonesia. Misalnya saja program Pesona Indonesia atau Anak Indonesia.


Ketua Dewan Pengawas TVRI Arief Hidayat Thamrin memang menyoroti direksi di era kepemimpinan Direktur Utama Helmy Yahya yang banyak menayangkan siaran asing.

Misalnya tayangan dari Discovery Channel. “Discovery Channel kita nonton buaya di Afrika, padahal buaya di Indonesia barangkali lebih baik,” ujar Arief dalam rapat bersama Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat, Jakarta, Selasa, 21 Januari 2020 lalu.

Sengkarut di LPP (Lembaga Penyiaran Publik) TVRI ini semakin keruh dengan ikut cawe-cawenya semakin banyak tangan. Dan campur tangan berbagai pihak ini ditengarai malah bikin suasana jadi gaduh tidak karuan. Publik bertanya-tanya, ada apa di belakang ini semua?

Ada DPRI-RI yang sudah ikut nyemplung duluan. DPR-RI katanya akan mengevaluasi kinerja Dewas TVRI. (Sumber: https://www.liputan6.com/news/read/4166236/dpr-akan-evaluasi-kinerja-dewan-pengawas-tvri) Kemudian BPK pun telah ikut meramaikan wacana. BPK menyindir keras Dewas TVRI sebagai pejabat non-eselon namun berasa seperti menteri. (Sumber: https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-4915795/bpk-sindir-keras-dewas-tvri-pejabat-non-eselon-rasa-menteri)

Kasus di LPP-TVRI ini akhirnya jadi bola liar yang menghantam kesana kemari dan mengembang-biakan banyak spekulasi.

Spekulasi liar yang sempat muncul di sebuah percakapan warung kopi misalnya: Ada keterlibatan kepentingan pihak televisi swastalah. Biasa, persaingan bisnislah. Rebutan program, rebutan rating, dst.

Ada juga isu soal kepentingan politik (partai) yang sedang ancang-ancang untuk pesta demokrasi di tahun 2024. Atau untuk kepentingan jangka pendek di pilkada serentak 2020.

Mereka perlu corong. Media propaganda. Dan LPP TVRI dinilai punya fungsi strategis. Perlu orang mereka yang ditanam disitu. Nah khan, jadi rame!

Jadi bagaimana? Apa yang mesti dilakukan?

Jawabannya sederhana saja: Transparansi. Dari dulu mestinya. Keterbukaan, buat arenanya jadi terang-benderang. Tak ada ruang-ruang gelap yang mencurigakan. Yang membangkitkan rasa saling curiga. Oleh semua pihak. Oleh Dewas, oleh direksi, oleh pemangku kepentingan lainnya.

Sekarang silang sengkarut makin ruwet. BPK sudah mengorek-ngorek soal tunjangan transportasi dan mobil dinas Dewas yang setingkat eselon satulah, jatah penerbangan di kelas bisnislah.


Di lain pihak Dewas juga mengungkit soal warisan utang dari manajemenlah. Kemudian program tayangan yang tidak selaras dengan misi suatu lembaga penyiaran publiklah. Dan berbagai argumentasi lainnya.

Sahut menyahut kedua belah pihak menjadi saling korek mengorek koreng kedua belah rombongan.


Seperti grup musik tanjidor yang semakin lama berjalan makin ramai pengikutnya. Mereka ikut joget-joget di bagian belakang barisan, bahkan bisa juga pindah ke bagian depan.

Ramai dan gaduhnya semakin – maaf – agak norak. Siapa sih yang diuntungkan dalam kegaduhan seperti ini?

Semakin keruh, semakin banyak buaya-buaya yang ikut masuk kolam. Mungkin juga buaya mancanegara sudah mencium bau darah.

Sayang khan kalau LPP-TVRI yang merupakan ‘Media Pemersatu Bangsa’ cuma jadi ajang bersatunya para buaya di satu kolam.(cv/avw)

Andre Vincent Wenas, Sekjen Kawal Indonesia – Komunitas Anak Bangsa

 347 total views,  1 views today

One thought on “Ada Buaya di Keruhnya Sengkarut TVRI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *